Dark/Light Mode

Ditutup Akibat Sebar Berita Hoaks

Mendagri Prancis Izinkan Masjid Pantin Dibuka Lagi

Kamis, 18 Maret 2021 05:21 WIB
Suasana di depan Masjid Agung Pantin, di pinggiran Kota Paris, Prancis. (Foto : REUTERS/Antony Paone).
Suasana di depan Masjid Agung Pantin, di pinggiran Kota Paris, Prancis. (Foto : REUTERS/Antony Paone).

 Sebelumnya 
Cerita bohong Z bermula karena dia tidak ingin keluar­ganya tahu bahwa dia diskors oleh sekolah. Siswa itu mengarang cerita kepada ayahnya, Brahim Chnina (48). Siswi itu tidak mengira bahwa kebohongannya berujung pada peng­hilangan nyawa orang lain. Setelah cerita Z beredar, 10 hari setelah itu, Paty dibunuh ketika berjalan pulang ke rumahnya di Conflans-Saint-Honorine, sekitar 30 kilometer dari Paris, pada 16 Oktober 2020. Dia dibunuh Abdullakh Anzorov, yang termakan kabar bohong yang beredar di media so­sial. Melansir The Guardian, Abdullakh Anzorov menyogok dua murid untuk menunjukkan ciri-ciri Paty.

Keluarga Paty hancur, Prancis mengalami trauma, dan siswi tersebut beserta ayahnya meng­hadapi tuntutan pidana.

Awalnya Z, tetap berpegang pada kebohongannya. Hingga akhirnya, polisi memberi tahu Z bahwa beberapa teman sekelas­nya telah mengonfirmasi bahwa Z tidak hadir di kelas.

Baca juga : DPD Demokrat Jabar Ancam Polisikan Kader Palsu Dukung KLB

Para siswa lain juga mengata­kan, Paty tidak menginstruksikan siswa Muslim lain untuk meninggalkan kelas seperti yang dia klaim. Gara-gara itulah Z akhirnya mengakui kebohongannya. Pada Minggu (7/3), Le Parisien mengungkapkan bahwa siswi yang disebut Z itu mengaku salah menuduh Paty.

Salahkan Orangtua

Para penyelidik dilaporkanmengatakan, Z menderita inferioritycomplex dan mengabdi pada ayahnya. Pengacara Z, Mbeko Tabula, meminta, tragedi itu tidak boleh hanya ditanggung siswi 13 tahun itu.

Baca juga : Menteri Sandi Ajak WNI Cintai Pariwisata Lokal

Tabula menilai, semua tragedi tersebut disebabkan perilaku ayah Z yang berlebihan.

“Klien saya berbohong, tetapi meskipun itu benar, reaksi ayah­nya masih tidak proporsional,” imbuh Tabula.

Chnina, yang sedang diselidiki karena insiden ini, kepada polisi, mengaku merasa bodoh.

Baca juga : Hanafi Rais Dijagokan Pimpin Partai Ummat

“Saya tidak pernah mengira pesan saya akan dilihat oleh teroris. Saya tidak ingin menya­kiti siapa pun dengan pesan itu,” ujar Chnina.

“Sulit membayangkan ba­gaimana kita sampai di sini bahwa kita kehilangan seorang profesor sejarah dan semua orang menyalahkan saya,” pung­kas Chnina. [MEL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.