Dark/Light Mode

Jumlah Korban Tewas Di Myanmar Terus Bertambah

Demonstran Minta Bantuan Pemberontak Lawan Militer

Selasa, 30 Maret 2021 05:33 WIB
Seorang demonstran menggunakan ketapel dalam unjuk rasa anti kudeta melawan junta militer Myanmar, di Yangon, Minggu (28/3/2021). (Foto : REUTERS/Stringer).
Seorang demonstran menggunakan ketapel dalam unjuk rasa anti kudeta melawan junta militer Myanmar, di Yangon, Minggu (28/3/2021). (Foto : REUTERS/Stringer).

RM.id  Rakyat Merdeka - Para demonstran meminta bantuan kelompok etnis bersenjata Myanmar ketika aparat junta militer semakin brutal sehingga menewaskan lebih dari 100 orang sehari dalam unjuk rasa menentang kudeta.

Tepat di Hari Angkatan Ber­senjata pada 27 Maret 2021, 114 orang tewas dalam demonstrasi lanjutan menentang kudeta mi­liter. Ini menjadi hari paling berdarah sejak protes anti kudeta 1 Februari lalu.

Dilansir Reuters, kemarin, seorang saksi mata mengatakan, pasukan keamanan junta menembaki orang-orang di pemakaman, Minggu (28/2)

Baca juga : Gelar Konpers Di Hambalang, Demokrat Kubu Moeldoko Minta Maaf Ke Jokowi

Pada Senin, Democratic Voice of Burma memberitakan, se­orang pria tewas dan beberapa lainnya luka-luka ketika pasukan keamanan menembak di per­mukiman di Yangon. Namun, kepolisian dan juru bicara junta militer tidak berkomentar terkait penembakan itu.

Pada hari yang sama, ada protes kecil di pusat kota Bago, Minhla dan Khin-U, kota selatan Mawlamyine, dan Demoso di timur. Menurut portal media lokal, tidak diketahui apakah terjadi bentrok atau tidak. Ber­dasarkan penghitungan kelom­pok advokasi Assistance Asso­ciation for Political Prisoners, 460 warga sipil tewas sejak kudeta 1 Februari lalu.

Kemarahan aktivis terhadap aparat membuat Komite Mogok Massal Nasional (GSCN), kelompok utama demonstran, dalam sebuah surat terbuka di Facebook, meminta pa­sukan etnis minoritas untuk membantu mereka menentang penindasan militer.

Baca juga : Saran IMM: Daripada Impor Beras, Lebih Baik Pemerintah Ciptakan Petani Milenial

“Organisasi etnis bersenjata perlu secara kolektif melindungi rakyat,” kata kelompok protes itu, dikutip dari Reuters.

Pemberontak dari berbagai kelompok etnis minoritas Myan­mar telah berperang dengan pe­merintah pusat selama beberapa dekade untuk menuntut otonomi yang lebih besar. Meski banyak kelompok setuju melakukan gencatan senjata, pertempuran telah berkobar dalam beberapa hari terakhir antara tentara dan pasukan di timur dan utara.

Pertempuran hebat juga mele­tus pada akhir pekan di dekat per­batasan Thailand antara tentara dan pejuang dari pasukan etnis minoritas tertua Myanmar, Per­satuan Nasional Karen (KNU). Sekitar 3.000 penduduk desa melarikan diri ke Thailand ketika jet militer membom daerah KNU, menewaskan tiga warga sipil, setelah pasukan KNU menyerbu pos militer dan menewaskan 10 orang, kata sebuah kelompok aktivis dan media.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.