Dark/Light Mode

Jumlah Korban Tewas Di Myanmar Terus Bertambah

Demonstran Minta Bantuan Pemberontak Lawan Militer

Selasa, 30 Maret 2021 05:33 WIB
Seorang demonstran menggunakan ketapel dalam unjuk rasa anti kudeta melawan junta militer Myanmar, di Yangon, Minggu (28/3/2021). (Foto : REUTERS/Stringer).
Seorang demonstran menggunakan ketapel dalam unjuk rasa anti kudeta melawan junta militer Myanmar, di Yangon, Minggu (28/3/2021). (Foto : REUTERS/Stringer).

 Sebelumnya 
Puluhan ribu penduduk desa Karen telah tinggal di kamp-kamp di Thailand selama be­berapa dekade dan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan, dia ingin, masalah terbaru Myanmar tidak menye­bar ke perbatasan Thailand.

“Tolong, biar ini menjadi masalah internal. Kami tidak ingin eksodus, evakuasi ke wilayah kami. Tetapi kami juga akan memperhatikan hak asasi manusia,” kata Prayuth kepada wartawan di Bangkok.

Baca juga : Gelar Konpers Di Hambalang, Demokrat Kubu Moeldoko Minta Maaf Ke Jokowi

Di utara Myanmar, pertempuran juga meletus Minggu lalu (28/3) antara pemberontak etnis Kachin dan militer di daerah pertambangan batu giok Hpakant. Dilansir media Kachinwaves, pejuang dari Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) menyerang sebuah kan­tor polisi dan militer membalas dengan serangan udara. Tidak ada laporan korban jiwa.

Namun baik Kelompok etnis bersenjata Myanmar KNU dan KIA telah menyatakan dukungan mereka kepada gerakan anti-ku­deta dan meminta junta militer menghentikan kekerasan terhadap demonstran Myanmar.

Baca juga : Saran IMM: Daripada Impor Beras, Lebih Baik Pemerintah Ciptakan Petani Milenial

Menyikapi kondisi Myanmar, Presiden Amerika Serikat Joe Biden kembali menyampaikan kecamannya. “Ini mengerikan, benar-benar memalukan. Ber­dasarkan laporan yang saya dapat, banyak sekali orang terbunuh yang sama sekali tidak perlu,” kata Biden kepada wartawan di Delaware, Negara Bagian asal­nya, dikutip Reuters, kemarin.

Sedangkan Uni Eropa menegaskan, kekerasan mematikan di Myanmar tak bisa diterima. “Militer Myanmar mengerikan dan memalukan,” kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Ero­pa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Chan­nelNewsAsia.com, kemarin.

Baca juga : Erick Pastikan UMi Bakal Untungkan Pelaku UMKM

Kecaman itu muncul setelah Komandan Pertahanan 12 nega­ra termasuk AS, Inggris, Jepang, dan Australia mengecam militer Myanmar. “Kami mendesak Angkatan Bersenjata Myanmar menghentikan kekerasan dan memulihkan rasa hormat dan kredibilitas bagi rakyat Myan­mar.” [DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.