Dark/Light Mode

Tak Terima Pemberitaan Miring Soal Xinjiang, Kedubes China Sampaikan Klarifikasi

Senin, 5 April 2021 10:27 WIB
Ilustrasi aktivitas sehari-hari masyarakat Xinjiang, China (Foto: Net)
Ilustrasi aktivitas sehari-hari masyarakat Xinjiang, China (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk Indonesia meluruskan pemberitaan yang tidak benar mengenai Xinjiang, dengan mengutip atau merilis laporan dari sebagian media Barat, yang beredar di Tanah Air. 

"Kami prihatin atas pemberitaan ini. Laporan itu tak hanya menyerang dan memfitnah China, tetapi juga menyesatkan publik Indonesia," demikian bunyi pernyataan resmi Kedubes China, Senin (5/5).

Terkait hal tersebut, Kedubes China menyampaikan sejumlah klarifikasi.

Berita Terkait : China Tertekan Digoyang Dunia Soal Kasus Uighur

Pertama, Xinjiang adalah sebuah daerah otonom China, yang sepanjang sejarahnya merupakan tempat di mana beragam etnik, budaya, dan agama selalu hidup berdampingan.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, pembangunan ekonomi dan sosial di Xinjiang telah meraih pencapaian luar biasa. Xinjiang juga mengalami perkembangan signifikan di bidang etnik, agama, dan budaya.

Namun pada saat bersamaan, Xinjiang juga menderita akibat aktivitas separatisme, ekstremisme, dan terorisme.

Baca Juga : Jelang Ramadhan, PkM FKG Usakti Ingatkan Masyarakat Jangan Abai Terhadap Covid-19

"Hakikat dari isu-isu terkait Xinjiang adalah masalah penanganan terhadap separatisme, terorisme, dan radikalisasi. Ini sama sekali bukan masalah hak asasi manusia (HAM), etnik, atau agama," tegas Kedubes China.

Kedua, dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kecil negara Barat memiliki motif politis untuk memusuhi China. Sehingga, menciptakan rumor bohong bahwa China melakukan apa yang disebut "penindasan etnik minoritas", "pembatasan kebebasan beragama", dan lain-lain di Xinjiang.

"Setelah gagal mencapai tujuan politis mereka, mereka selanjutnya merekayasa rumor bohong yang absurd dan sama sekali tidak berdasar, seperti "genosida", "pemandulan paksa", dan "kerja paksa" di Xinjiang," kata Kedubes China.

Baca Juga : Banjir Di Lembata NTT Tewaskan 11 Orang, 16 Hilang

Namun, fakta tidak bisa dibantah. Dalam 40 tahun terakhir, jumlah penduduk etnik Uighur di Xinjiang meningkat dari 5,55 juta menjadi lebih dari 12,7 juta jiwa. Angka harapan hidup rata-rata etnik Uighur, juga meningkat dari hanya 30 tahun pada era sebelum 1960-an menjadi 72 tahun saat ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pertumbuhan populasi etnik Uighur mencapai 25,04 persen. Lebih tinggi diibanding tingkat pertumbuhan populasi seluruh Xinjiang, yang besarnya 13,99 persen.
 Selanjutnya