Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Korban Tewas Tembus 700 Orang, Militer Myanmar Tak Punya Hati
Senin, 12 April 2021 23:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kelompok advokasi Asosiasi bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) menuturkan, lebih dari 700 orang tewas, termasuk anak-anak dan pemuda, sejak kudeta militer Myanmar 1 Februari lalu. Dari jumlah tersebut, UN Children melaporkan, 46 anak terbunuh. Selain itu, sebanyak lebih dari 3 ribu orang juga telah ditahan junta karena berpartisipasi dalam demonstrasi anti-kudeta.
Seperti tak punya hati, juru bicara junta militer Myanmar, Mayor Jenderal Zaw Min Tun,membantah bertanggung jawab atas kematian anak-anak itu. Bahkan, ia malah menyalahkan demonstran memprovokasi anak-anak untuk ikut dalam unjuk rasa damai yang dibubarkan militer dengan kekerasan.
"Tidak ada alasan kami akan menembak anak-anak, ini hanya cara teroris membuat kami terlihat buruk," ucap Zaw Min Tun. Dilansir Cable News Network (CNN), Selama ini junta militer menyebut para demonstran anti kudeta sebagai teroris.
Baca juga : Jamin Harga Sembako Aman, Mendag Harap Masyarakat Khusyuk Jalani Puasa
Menurut Zaw Min, tidak mungkin seorang anak ditembak di rumah mereka. Ia mendukung penyelidikan akan dilakukan jika itu memang terjadi. Begitulah, junta militer Myanmar masih berkeras membela kudeta dan menggunakan kekerasan terhadap para penentangnya. Sanksi dan berbagai tekanan internasional yang menyudut kannya tak dihiraukan.
Tak hanya menindak keras warga sipil, junta militer Myanmar juga membungkam para diplomat yang melawan rezim. Duta Besar Myanmar untuk Inggris, Kyaw Zwar Minn, dipecat junta militer karena mendukung pemerintahan Penasihat Negara, Aung San Suu Kyi, yang digulingkan.
Zwar Minn bahkan diberhentikan dengan dipermalukan. Wakilnya di kedutaan, Chit Win, ditunjuk militer untuk menduduki jabatan dubes. Chit Win tega mengunci dan mengusir Zwar Minn hingga tak bisa memasuki gedung kedutaan. Akhirnya, ia terpaksa bermalam di dalam mobilnya.
Baca juga : Sabar Ya, Pak Jokowi Segera Datang
Selain Zwar Minn, utusan Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kyaw Moe Tun, juga telah memberontak junta militer. Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Moe Tun menyerukan perlawanan dan semangat untuk melawan junta. Ia juga meminta zona larangan terbang hingga embargo senjata untuk menekan angka kematian yang disebabkan militer.
Selain warga sipil, junta militer juga terus mendapat serangan dari milisi etnis. Gabungan sejumlah kelompok milisi etnis menyerang kantor polisi negara bagian Shan pada Sabtu (10/4) pekan lalu, dan menewaskan sepuluh orang polisi.
Menurut laporan media massa Shan News, milisi menyerang kantor polisi di Naungmon, negara bagian Shan, pada pagi hari. Kelompok milisi yang bergabung dan menyerang adalah Tentara Arakan, Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang, dan Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar.
Baca juga : Mau Tembus Rp 14.500, Rupiah Makin Babak Belur
Kelompok pemberontak itu bersatu karena mereka menentang tindak kekerasan junta terhadap pengunjuk rasa. Namun, pejabat senior junta militer baru-baru ini mengklaim bertemu dengan dua kelompok milisi dari Wa dan Shan, etnis terkuat Myanmar untuk bersekutu. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya