Dark/Light Mode

Akui Lakukan Genosida Rwanda, Prancis Minta Maaf

Jumat, 28 Mei 2021 00:03 WIB
Emmanuel Macron di Pusat Peringatan Genosida Kigali di Gisozi di Kigali, Rwanda, 27 Mei 2021. (Foto Reuters/Jean Bizimana)
Emmanuel Macron di Pusat Peringatan Genosida Kigali di Gisozi di Kigali, Rwanda, 27 Mei 2021. (Foto Reuters/Jean Bizimana)

RM.id  Rakyat Merdeka - Prancis mengakui punya peran dan tanggung jawab politik dalam genosida etnis Tutsi di Rwanda pada 1994. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui dan meminta maaf.

Dalam kunjungannya ke Kigali pada Kamis (27/5), Macron berharap warga Rwanda dapat memaafkan kesalahan Prancis di masa lampau dan memulihkan hubungan kedua negara.

"Hanya mereka yang melewati malam-malam itu yang mungkin bisa memaafkan dan dengan melakukan itu memberikan pengampunan," kata Macron di Pusat Peringatan Genosida Kigali di Gisozi di Kigali, Rwanda, 27 Mei 2021.

Di kompleks itu, 250 ribu korban genosida dimakamkan. Ada barisan tengkorak disusun dengan nama-nama korban tertulis di dinding hitam. Macron menambahkan bahwa Prancis harus mengakui penderitaan yang menimpa Rwanda.

Baca Juga : Kendaraan Listrik Hemat Energi Hingga 80 Persen, Migrasi Harus Dipercepat

"Dengan ini saya dengan rendah hati dan dengan hormat berdiri di samping Anda hari ini, saya menyadari sejauh mana tanggung jawab kami," imbuh Macron.

Lawatan Macron ke Rwanda berlangsung setelah laporan panel penyelidikan Prancis pada Maret lalu keluar. Laporan itu menyimpulkan bahwa sikap kolonial telah membutakan para pejabat Prancis di masa itu.

Pemerintah Prancis pun dinilai memikul tanggung jawab serius dan luar biasa karena tidak bisa memprediksi pembantaian yang dipicu perang saudara di Rwanda tersebut.

Meski begitu, dikutip Reuters, laporan itu tidak menyebut bahwa Prancis terlibat langsung pertikaian antara suku Tutsi dan Hutu yang menewaskan lebih dari 800 ribu warga kedua etnis.

Baca Juga : Bantu Indonesia Tangkal Illegal Fishing, Jepang Donasikan Kapal Pengawas Perikanan

"Para pembunuh yang mengintai di rawa-rawa perbukitan, gereja, tidak mewakili Prancis. Prancis bukan lah kaki tangan," kata Macron.

Presiden Rwanda Paul Kagame menyambut baik pidato Macron. "Kata-katanya lebih kuat daripada permintaan maaf," ucap Kagame dalam jumpa pers bersama.

Sebelumya Kagame yang berasal dari etnis Tutsi mengatakan, "Rakyat Rwanda mungkin tidak bisa melupakan tetapi memaafkan Prancis atas perannya."

Jalan-jalan di Kigali sepi pada hari Kamis, tanpa ada spanduk atau bendera yang biasanya menyertai kunjungan tingkat tinggi. Pembatasan pertemuan karena Covid-19 tetap berlaku. Tetapi beberapa warga Rwanda mengatakan mereka menyambut baik pidato Macron.

Baca Juga : Panaskan Mesin Jateng, Ketum PAN Kian PD Menang 2024

Egide Nkuranga, presiden Ibuka, sasosiasi yang menaungi korban selamat genosida, mengatakan Macron telah menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan berjanji untuk menangkap pelaku genosida yang ditemukan tinggal di Prancis.

Menteri keuangan Rwanda Uzziel Ndagijimana juga mengatakan, dia menandatangani pinjaman 60 juta euro (Rp 1 triliun) dengan Prancis untuk membiayai akses ke vaksin dan perlindungan sosial.

Macron tiba di negara Afrika Timur itu pada Kamis pagi. Dia adalah pemimpin Prancis pertama sejak 2010 yang mengunjungi Rwanda. Selama genosida, antara 7 April dan 15 Juli 1994, diperkirakan satu juta orang, terutama dari komunitas etnis Tutsi dan Hutu, tewas dalam kurun waktu 100 hari.

Dari Rwanda, Emmanuel Macron melakukan perjalanan ke Afrika Selatan, di mana dia akan bertemu dengan Presiden Cyril Ramaphosa untuk membahas Covid-19 dan krisis regional, termasuk di Mozambik. [MEL]