Dark/Light Mode

Nggak Marah Meski Kena Tampar

Presiden Macron Ngademin Hati Pendukungnya

Rabu, 9 Juni 2021 12:34 WIB
Presiden Prancia Emmanuel Macron (Foto: Ist)
Presiden Prancia Emmanuel Macron (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta pendukungnya untuk tidak terpancing dengan insiden penamparan yang dialaminya, Selasa (8/6).

Wajah Presiden Macron ditampar seorang pria saat dia menyapa kerumunan warga di desa Tain-l'Hermitage, Selasa (8/6).

Macron sedang mengunjungi departemen Drome di Prancis tenggara ketika insiden itu terjadi. Presiden bertemu dengan pengusaha restoran dan mahasiswa untuk membahas pemulihan bangsa setelah pandemi Covid-19.

Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan presiden, mengenakan kemeja lengan panjang, mengulurkan tangannya ke kerumunan simpatisan yang berdiri di belakang penghalang logam.

Baca Juga : PTM Terbatas Tahap Kedua, Dishub DKI Siapkan 75 Bus Sekolah

Seorang pria yang mengenakan masker dan kacamata kemudian tiba-tiba mencengkeram lengan presiden sebelum akhirnya menampar wajahnya. Pria itu kemudian meneriakkan kalimat "Montjoie Saint Denis" dan "Down with Macron-ism".

Pasukan keamanan presiden kemudian bergegas untuk campur tangan dan mendorong pria itu hingga jatuh ke tanah sambil mengantar presiden pergi.

Pihak Istana Elysee mengonfirmasi tentang apa yang mereka sebut upaya untuk menyerang presiden. Macron menyebut insiden itu sebagai peristiwa individu yang tidak ada hubungannya dengan kelompok apapun.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Le Dauphine Libre, Selasa (8/6), Macron mengatakan dia tidak marah atas insiden tersebut. Alasan di balik insiden itu tidak jelas, meskipun slogan “Montjoie Saint Denis” dikenal sebagai seruan perang Prancis sejak negara itu masih berbentuk monarki. Itu tetap menjadi slogan royalis saat ini.

Baca Juga : KPK Diminta Transparan Usut Kasus Aziz Syamsuddin

Dua orang ditangkap polisi setelah insiden penamparan yang menimpa Macron. Identitas mereka belum terungkap. Insiden itu segera dikutuk oleh para politisi Prancis.

Perdana Menteri Jean Castex mencapnya sebagai penghinaan terhadap demokrasi.

“Sangat jelas bahwa demokrasilah yang menjadi sasaran,” katanya kepada Majelis Nasional hanya beberapa menit setelah insiden itu, Rabu (9/6).

Para anggota parlemen juga dengan suara bulat mengecam insiden tersebut dan menyatakan dukungan mereka terhadap Macron. Bahkan beberapa lawan politik presiden menyatakan solidaritas dengannya.

Baca Juga : Korupsi Pembangunan Stadion Mandala Krida, KPK Periksa 2 Saksi

“Jika debat demokrasi bisa menjadi pahit, itu sama sekali tidak dapat mentoleransi kekerasan fisik,” kata ketua Partai National Rally Marine Le Pen.

Pemimpin partai sayap kiri France Unbowed, Jean-Luc Melenchon, juga mengatakan dia bersolidaritas dengan Macron sambil mencap penyerang sebagai anggota "royalis ekstrem kanan.

“Tidak ada perselisihan yang dapat membenarkan serangan fisik. Mudah-mudahan, kali ini semua orang akhirnya mengerti,” katanya. [DAY]