Dark/Light Mode

Pengembangan Militer Bakal Dikebut

AS Anggap China Jadi Lawan Nomor Wahid

Jumat, 11 Juni 2021 05:41 WIB
Menhan AS, Lloyd Austin (Foto : AP Photo/Alex Brandon).
Menhan AS, Lloyd Austin (Foto : AP Photo/Alex Brandon).

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) telah memfokuskan China sebagai lawan utamanya. Sementara, China menuding AS belum move on dari mental Perang Dingin.

Demi menghadapi China, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) telah menyusun strategi.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin meminta dilakukannya percepatan pengembangan mi­liter. Pentagon juga akan mengi­dentifikasi apa kekurangan dan kelebihan angkatan bersen­jata China, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Gugus Tugas itu dipimpin Ely Ratner. Mantan Ajudan Utama Presiden AS Joe Biden ini ditunjuk sebagai pejabat tinggi Pentagon untuk urusan Asia-Pasifik.

Berita Terkait : Global Times: Nuklir China Harus Siap Hadapi Amerika

Pentagon hanya merilis be­berapa rincian tentang temuan Gugus Tugas itu yang telah berjalan empat bulan.

Sedangkan tantangan men­desak dari China, antara lain perluasan angkatan lautnya, upaya untuk melakukan kontrol yang lebih besar atas Laut China Selatan, dan meningkatkan an­caman terhadap Taiwan, yang merupakan mitra AS.

“Tujuan kami untuk memper­cepat pengembangan strategi dan teknologi perang baru. Memperbarui rencana untuk pasukan AS di Pasifik. Dan membuat tenaga kerja Pentagon lebih siap menghadapi tantangan China. Termasuk memperbarui pendidikan dan latihan,” demikianpernyataan Austin, dilan­sir Wall Street Journal.

Merespons kebijakan terse­but, Kedutaan Besar China di Washington DC mengatakan, Beijing berkomitmen membagun perdamaian.

Berita Terkait : China Mau Baikan Sama Media Asing

“Tinggalkan Perang Dingin yang usang dan mentalitas zero-sum, dan melihat perkembangan China dan hubungan China dengan AS secara rasional,” demikian pernyataan Kedutaan Besar China.

Jika itu dilakukan, tentu dapat menghindari rusaknya hubungan bilateral dan kerja sama secara keseluruhan di bidang-bidang penting.

Sebelumnya, US Congressional Research Service (CRS) mengeluarkan laporan, bahwa PLA kurang pengalaman dalam bertempur.

“Pejabat PLA sering merujuk pada endemik ‘penyakit perda­maian’ di pasukan, dan khawatir bahwa pasukan yang belum per­nah melihat pertempuran akan berpuas diri dan berjuang untuk mempertahankan kesiapan,” bu­nyi laporan yang diterbitkan oleh CRS, sebuah organisasi Kongres AS sejak 1914, seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (8/6).

Berita Terkait : AS Bakal Beri Senjata Ke Negara Anti China

Laporan tersebut mencatat bahwa PLA terakhir melakukan perang skala penuh pada tahun 1979, ketika PLA melancarkan serangan terhadap tetangga se­latan China, Vietnam.
 Selanjutnya