Dark/Light Mode

Pengembangan Militer Bakal Dikebut

AS Anggap China Jadi Lawan Nomor Wahid

Jumat, 11 Juni 2021 05:41 WIB
Menhan AS, Lloyd Austin (Foto : AP Photo/Alex Brandon).
Menhan AS, Lloyd Austin (Foto : AP Photo/Alex Brandon).

 Sebelumnya 
Sejak 1949, PLA telah terlibat dalam perang skala penuh hanya tiga kali, yaitu Perang Korea (1950-1953), perang China-India 1962, dan perang China-Vietnam 1979.

“Bentrokan mematikan antara pasukan China dan India di Lembah Galwan di wilayah perbatasan Ladakh yang diseng­ketakan Juni lalu, dikategorikan sebagai tindakan non-perang dalam bahasa PLA,” begitu laporan Kongres AS.

Laporan AS lebih lanjut menganggap, kemampuan operasi gabungan, koordinasi efektif antara sayap yang berbeda dari PLA jika terjadi aksi bersenjata, juga tetap menjadi tantangan utama bagi pasukan China.

Bahkan ketika militer melaku­kan lebih banyak latihan dari­pada sebelumnya, relatif sedikit yang bersama: antara 2012 dan 2019, 80 latihan gabungan terjadi pada atau di atas tingkat brigade/divisi, menurut buku putih pertahanan China 2019.

Berita Terkait : Global Times: Nuklir China Harus Siap Hadapi Amerika

Lebih lanjut, laporan Kongres AS meragukan kemampuan China di daerah perang tertentu. Termasuk antara lain, perang anti-kapal selam, pertahanan udara berbasis laut, intelijen jarak jauh dan operasi udara di atas air.

Laporan AS juga menunjuk­kan tingkat kerentanan dalam pasukan China karena menga­lami “proses re-organisasi” yang ditetapkan Presiden Xi Jinping.

Pada tahun 2017, Xi mengumumkan, Beijing berusaha untuk “memodernisasi” angkatan ber­senjatanya pada tahun 2035, dan mengubahnya menjadi kekuatan kelas dunia pada pertengahan abad ke-21.

“Saat PLA mereorganisasi dirinya, pasukan sedang mengalami periode gangguan yang signifikan, membuat beberapa pengamat mempertanyakan apakah PLA mungkin sangat tidak siap menghadapi konflik saat proses reorganisasi sedang berlangsung,” demikian peryataan laporan kongres.

Berita Terkait : China Mau Baikan Sama Media Asing

Dana Militer

Senat AS, pada Selasa (8/6) menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) kebijakan indus­tri besar-besaran untuk melawan ancaman ekonomi yang melon­jak dari saingannya, China.

Termasuk mengatasi perpecahan partisan untuk mendukung penda­naan lebih dari 170 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.423 triliun) bagi penelitian dan pengembangan.

Langkah itu disetujui dengan suara 68 banding 32. Kini masalah itu akan dibahas Dewan Perwakilan Rakyat.

Berita Terkait : AS Bakal Beri Senjata Ke Negara Anti China

“Undang-undang ini akan memungkinkan AS berinovasi, memproduksi lebih banyak, dan menang bersaing dalam industri masa depan dunia,” kata Chuck Schumer, Ketua Mayoritas Fraksi Demokrat di Senat.

Menanggapi Undang-Undang itu, Senator Republik Roger Wicker dari Mississippi mengatakan, “Ini peluang bagi Amerika untuk menjawab persaingan tidak sehat dari China”. [PYB]