Dark/Light Mode

Duta Besar Indonesia Untuk Swiss Muliaman Hadad

Silaturahmi Dengan Pengusaha Restoran Indonesia

Jumat, 11 Juni 2021 08:40 WIB
Dubes Muliaman Hadad (ketiga kanan) berpose usai berbincang-bincang dengan pengusaha restoran Indonesia di  Swiss. (Foto: KBRI)
Dubes Muliaman Hadad (ketiga kanan) berpose usai berbincang-bincang dengan pengusaha restoran Indonesia di Swiss. (Foto: KBRI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah pandemi, beberapa restoran makanan Indonesia di Kota Jenewa, Swiss, berjuang untuk tetap bertahan meski menghadapi situasi akibat terpaan pandemi.

Duta Besar Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstien, Muliaman Hadad menemui dan berdiskusi dengan para pengusaha rumah makan di Jenewa, seperti Restoran Bali Palace Indonesia, Restoran Sendok Garpu dan Restoran Bali Indonesia.

Berita Terkait : Ingatkan Diaspora Indonesia Amalkan Nilai Pancasila

“Para pengusaha rumah makan di Jenewa ini sangat kompak dan ingin maju bersama menghadapi tantangan situasi pandemi, aturan lockdown, serta protokol kesehatan ketat,” demikian rilis yang dikirim KBRi Bern, kemarin.

Protokol kesehatan ketat, seperti pembatasan jumlah tamu, aturan dine-in, kewajiban contact tracing, physical distancing dan standar higienis yang diterapkan bagi bisnis kuliner di Swiss.

Berita Terkait : Kebut Pemulihan Kinerja, Garuda Indonesia Percepat Pengembalian Sewa Armada

Sekitar satu tahun lebih sudah pandemi melandadan cukup memukul sektor bisnis, termasuk bisnis rumah makan Indonesia di Swiss. Baru sekitar minggu lalu, sejak 31 Mei, Pemerintah Swiss mulai membolehkan bisnis rumah makan untuk buka dengan dine-in, dengan syarat 1 meja maksimal 4 orang dan dengan sistem lacak data pengunjung.

Sebelumnya, sejak 19 April bisnis rumah makan diizinkan buka sebatas take-away atau pun makan di luar (outdoor), seperti di wilayah teras dari restoran.

Berita Terkait : Anis Matta Optimis, Kekuatan Militer Indonesia Tembus 5 Besar Dunia

Dalam diskusi yang dimaksud, para pengusaha menyampaikan tantangan utama dalam menjalankan bisnis kuliner di Swiss. Utamanya kebutuhan dukungan logistik, seperti kemu da han pengi riman atau penga daan logistik bumbu-bumbu dan santan dari Indonesia yang berjadwal rutin dengan biaya kirim terjangkau.
 Selanjutnya