Dark/Light Mode

Erdogan Usir 10 Dubes Pembela Aktivis HAM

Senin, 25 Oktober 2021 06:30 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Anadolu).
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: Anadolu).

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengusir 10 duta besar negara sahabat yang secara terang-terangan membela aktivis hak asasi manusia (HAM) Osman Kavala.

Sebelumnya, Erdogan su­dah mewanti-wanti pihak asing untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Turki. Namun, se­banyak 10 dubes mengeluarkan pernyataan menyoroti penahanan Kavala. Hal ini membuat Erdogan naik pitam.

Erdogan memerintahkan Ke­menterian Luar Negerinya me-persona non grata-kan Duta Besar Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Finlandia, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Norwegia dan Swedia.

Persona non grata dapat meng­hapus status diplomatik dan seringkali mengakibatkan pengu­siran atau penarikan pengakuan atas seorang duta besar.

Berita Terkait : Pemprov DKI Akan Uji Coba Pembukaan Tempat Wisata

Dikutip Channel News Asia, kemarin, Erdogan menilai, 10 utusan tersebut bersikap tidak sopan terhadap Pemerintahan Turki. Erdogan tak memberitahu kapan tepatnya para 10 duta be­sar tersebut resmi diusir.

“Mereka harusnya memahami dan mengerti Turki. Mereka harus segera angkat kaki,” tegas Erdogan.

Pada Senin (18/10) lalu, 10 utusan asing itu merilis pernyataan gabungan menyoroti Kavala, aktivis kelahiran Paris. AS, Jerman, Kanada, Denmark, Finlandia, hingga Swedia me­nyerukan supaya kasus Kavala diselesaikan secepatnya.

Kavala merupakan pengusa­ha, filantropis, dan aktivis yang kerap menghadapi serangkaian tuduhan. Mulai dari protes anti-Pemerintah pada 2013 hingga dugaan keterkaitan upaya kudeta militer yang gagal pada 2016. Kavala ditahan sejak 2017.

Berita Terkait : Pimpinan DPD Usul Presiden Kembali Jadi Mandataris MPR

Mengutip New York Times, Kavala menjadi tahanan politik yang paling terkemuka di Turki. Ia dibesarkan dan tinggal di Istanbul. Kavala berasal dari ke­luarga pedagang tembakau yang pindah dari Yunani ke Istanbul pada 1920-an. Kavala belajar tentang ilmu manajemen di Uni­versitas Teknik Timur Tengah di Ankara. Ia juga mempelajari ilmu ekonomi di Universitas Manchester, Inggris.

Kavala melakukan studi untuk gelar doktornya di The New School for Social Research di New York. Namun, studinya terhenti saat ayahnya mening­gal dunia pada 1982. Di usia 26, Kavala pergi ke Istanbul dan mengambil-alih perusahaan keluarganya, Kavala Group. Ia menikah dengan peneliti ilmu sosial, Ayse Bugra pada 1988.

Berbicara kepada AFP dari selnya pekan lalu, Kavala mengatakan, ia merasa dituding Erdogan bagian dari kekuatan asing yang berusaha menggoyahkan rezimnya.

Terkait kasus itu, Dewan Eropa sudah memeringatkan Turki supa­ya mematuhi putusan Pengadilan Eropa untuk HAM 2019 tentang pembebasan Kavala. Turki diberi tenggat waktu untuk merespons putusan tersebut saat pertemuan selanjutnya pada 30 November sampai 3 Desember nanti

Berita Terkait : Jangan Umbar Data Diri Dan Aktivitas Di Sosmed

Jika gagal memberikan respons positif, maka pengadilan HAM “Benua Biru” akan mem­proses sidang disiplin untuk Turki. [DAY]