Dewan Pers

Dark/Light Mode

Gus Halim Wanti-Wanti CPNS Kemendes Tak Terjebak Paham Radikal

Jumat, 13 Mei 2022 12:12 WIB
Menteri Desa dan PDTT, Abdul Halim Iskandar memberikan pengarahan pada acara Pemanggilan, Pembekalan dan Orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun Anggaran 2021 di Gedung Makarti Muktitama, KDPDTT Jakarta, Kamis (12/5). (Foto: Humas Kemendes PDTT)
Menteri Desa dan PDTT, Abdul Halim Iskandar memberikan pengarahan pada acara Pemanggilan, Pembekalan dan Orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun Anggaran 2021 di Gedung Makarti Muktitama, KDPDTT Jakarta, Kamis (12/5). (Foto: Humas Kemendes PDTT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mewanti-wanti calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan kementeriannya untuk tidak terjebak paham radikal. Sebagai abdi negara kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa ditawar.

"Kita ini bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita hidup dari air Indonesia, kita berpijak di atas bumi Indonesia, kita bernafas menghirup udara Indonesia, pada saatnya kita meninggal kita akan dikebumikan di bumi Indonesia. Maka sudah sebuah keniscayaan kita untuk mencintai Indonesia," tegas Abdul Halim Iskandar saat memberikan arahan dalam pembekalan dan orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Aula Makarti Muktitama, Kantor Kemendes PDTT, seperti keterangan yang diterima RM.id, Jumat (13/5).

Gus Halim,sapaan akrab Abdul Halim Iskandar mengatakan, kecintaan NKRI merupakan modal utama bagi seorang abdi negara. Jika modal dasar ini terganggu dengan berbagai paham yang mendegradasikan kecintaan terhadap negara maka akan sangat berbahaya.

Berita Terkait : Habis Mudik, Gus Halim Minta Anak Buahnya Gaungkan Desa Wisata Dan Produk Unggulan Desa

Apalagi, jika paham-paham tersebut diyakini oleh abdi negara yang mempunyai akses dan pengaruh terhadap lahirnya berbagai kebijakan publik.

"Maka jangan sampai para CPNS maupun ASN Kemendes PDTT terpapar paham-paham yang bisa melunturkan cinta kepada bangsa dan negara," tegasnya.

Dengan landasan kecintaan terhadap negara pula, lanjut Gus Halim maka seorang aparatur sipil negara bisa memberikan pengabdian terbaik dalam berbagai situasi dan kondisi.

Berita Terkait : Kemendes PDTT Gandeng PT Vale Dan Pemda

Menurutnya, situasi bernegara tentu tidak selalu dalam kondisi serba ideal. Ada kalanya situasi negara tidak baik-baik saja yang bisa jadi hal itu berimbas langsung pada kesejahteraan pegawai.

"Dalam situasi ini maka landasan cinta negara akan mampu menjadi bahan bakar untuk bekerja maksimal," tutur Gus Halim.

Dia mencontohkan saat negara menghadapi pandemi Covid-19. Dari sisi anggaran banyak terjadi refocusing, yang berimbas pada pemotongan tunjangan bagi ASN. Jika situasi ini tidak ditanggapi dengan semangat pengabdian pada negara, maka sudah pasti akan mengganggu tingkat kinerja ASN.

Berita Terkait : Gus Halim: Penuntasan Kemiskinan Ekstrem Butuh Kolaborasi

"Jadi menjadi ASN itu tidak berarti hadirnya zona nyaman yang membuat malas-malasan karena merasa semua sudah terjamin," ingatnya.
 Selanjutnya