Dark/Light Mode

Culture Shock Dan Rahwana

Senin, 22 November 2021 06:30 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Saya pernah mengalami culture shock saat tiga bulan pertama mengikuti kuliah program Master di Washington DC. Pergaulan bebas di kampus membuat saya tersipu malu karena bertentangan dengan kalbu. Pemandangan dua sejoli berciuman di tempat umum bukan hal yang aneh. Anak lulus SMA sudah diperkenalkan pentingnya menggunakan kondom dalam pergaulan mereka. Bahkan dalam acara pesta lajang, kondom sengaja dibuat kalung untuk menunjukkan dirinya available untuk bercinta.

Ada beberapa larangan atau pemali bagi kaum laki-laki di Amerika. Seperti larangan memelototi dengan nafsu bagian tertentu tubuh wanita atau staring. Selain itu, melakukan perbuatan senonoh atau sexual abusement terhadap wanita merupakan pelanggaran hukum berat di negeri Paman Sam. Lebih baik pacaran suka sama suka sehingga bebas untuk melakukan apa saja terhadap pasangan tersebut. Itulah sebetulnya inti sari dari perdebatan poin-poin Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021.

Berita Terkait : Deforestasi Wanamarta

“Pengetahuan tentang seksual masih tabu, Mo,” celetuk Petruk, cengengesan. Romo Semar sebetulnya kurang semangat untuk ikut nimbrung urusan domestik dan ranah pribadi. Semar sedang galau menyambut datangnya libur akhir tahun dan tahun baru. Sekilas Covid sudah melandai. Sehingga banyak yang ingin jalan-jalan untuk berlibur. Tapi, sebenarnya risiko gelombang ketiga masih sangat terbuka. Di beberapa negara Eropa telah terbukti. Keteledoran membawa bencana baru yaitu gelombang ketiga Covid.

Kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok tingwe membawanya ke zaman Ramayana. Kisah percintaan Rama dan Sinta yang berujung petaka. Kisah cinta Rama terhadap Dewi Sinta sampai sekarang masih misteri. Ada sebagian orang percaya bahwa cinta Rahwana kepada Sinta lebih tulus dibanding cinta Prabu Rama.

Berita Terkait : Keserakahan Prabu Permeo

Kocap Kacarito, Prabu Rahwana sedang ngangkalng jagat di atas hutan Dandaka. Tiba-tiba pandangannya tertuju kepada wanita cantik yang sedang bermain air di tepi telaga. Wanita titising Dewi Sri Widawati menjadi pujaan Rahwana atau Dasamuka. Dewi Sinta merupakan wanita titising Sri Widawati. Namun sayang Rahwana kalah cepat dengan Prabu Rama. Dewi Sinta sudah menjadi istri sah Prabu Rama dari Ayodya.

Rama dan Sinta sedang berbulan madu di tengah hutan Dandaka. Melihat kecantikan Dewi Sinta muncul niat jahat Rahwana untuk menculik pujaan hatinya. Rahwana tidak peduli Sinta sudah milik Rama. Segala upaya dilakukan untuk merebut Sinta dari tangan Rama. Kala Marica diminta Rahwana untuk mengubah wujud menjadi kijang emas. Kijang emas berusaha memisahkan Rama dengan Sinta. Saat Dewi Sinta sudah jauh dari Rama, dengan cepat Rahwana menculik Sinta dibawa kabur ke Alengka.

Berita Terkait : Kutukan Aji Pancasona

Dewi Sinta disekap Rahwana di Alengka selama lima tahun. Dan selama Dewi Sinta disekap di taman Argasoka, Rahwana terus berusaha merayu Dewi Sinta untuk menerima cintanya. Tapi Dewi Sinta menolak cinta Rahwana dan memilih mati daripada menerima cintanya. Rahwana tidak mau gegabah untuk menyentuh Dewi Sinta. Karena Rahwana tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan Rahwana kalau ingin menemui Dewi Sinta selalu didampingi keponakannya Dewi Trijatha. Dewi Sinta masih suci selama disekap Rahwana.

“Rahwana sangat menghargai wanita, Mo. Bisa saja Rahwana berlaku tidak senonoh terhadap Dewi Sinta, tapi tidak dilakukan,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul Tole, Rahwana masih memegang angger-angger atau tatanan. Sama halnya dengan pro kontra Permendikbudristek Nomor 30. Selama disosialisasikan dengan bijak dan tidak bertentangan dengan budaya kita, sebuah peraturan akan diterima masyarakat,” sahut Semar. Oye