Dewan Pers

Dark/Light Mode

Berdirinya Padepokan Sokalimo

Senin, 18 Oktober 2021 06:28 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Bukan tanpa maksud Bambang Kumbayana atau Pandito Durna meminta Prabu Duryudana memberikan wilayah Sokalimo untuk dijadikan padepokan. Padepokan Sukolimo selain sebagai tempat belajar mengajar Pandawa dan Kurawa berfungsi sebagai pusat riset kerajaan Hastina. Pandito Durna ditunjuk sebagai tetungguling padepokan sekaligus bertanggung jawab penuh terhadap siswa-siswa yang belajar di Padepokan Sokalimo. Seperti layaknya sebuah think tank, kajian ilmiah padepokan Sokalimo tidak kalah dibanding dengan badan riset internasional.

“Maksud Durna mendirikan Padepokan Sokalimo apa, Mo?” tanya Petruk penasaran. Romo Semar tidak serta merta mau menjawab pertanyaan anaknya Petruk. Semar sedang galau dengan merebaknya pinjaman online atau pinjol yang meresahkan masyarakat akhir-akhir ini. Kalau dulu ada pinjaman keliling ke pasar-pasar dengan nama mindringan atau “bank Titil”. Seiring dengan kemajuan ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan rakyat bank gelap atau rentenir tersebut hilang dengan sendirinya. Kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot dan klembak menyan membawanya ke zaman Mahabarata ketika Pandito Durna membangun Padepokan Sokalimo.

Berita Terkait : Resesi Pascapandemi

Kocap kacarito, Bambang Kumbayana berangkat dari kerajaan Atas Angin untuk merantau mencari kakak seperguruan Arya Sucitra di kerajaan Pancala. Setelah mohon pamit kepada orang tuanya Prabu Baratmadya, Kumbayana meninggalkan tanah kelahiran dengan tekad menemui sahabatnya. Perjalanan dari kerajaan Atas Angin ke Pancala memerlukan waktu yang cukup lama karena harus menyeberangi lautan.

Bambang Kumbayana sudah sampai di tepi laut setelah beberapa hari lewat jalan darat. Satu-satunya jalan menuju kerajaan Pancala harus menyeberangi lautan. Dalam keadaan bingung, Kumbayana bersumpah barang siapa bisa menyeberangkan dirinya ke seberang laut. Maka kalau perempuan akan dijadikan istri. Sedangkan jika laki-laki akan diangkat sebagai saudara. Rupanya ada bidadari sedang menerima kutukan berwujud seekor kuda betina. Nama bidadari tersebut yaitu Wilutomo. Bidadari Wilutoma bersedia menyeberangkan Kumbayana ke Pancala. Dan kelak Kumbayana memenuhi janjinya mengawini Wilutomo dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Aswatama.

Berita Terkait : Patung dan James Bond

Kumbayana merasa bahagia mengetahui bahwa sahabatnya telah sukses menjadi seorang raja di Pancala. Dengan menggendong Aswatama yang masih bayi, tanpa ragu Kumbayana masuk ke Istana. Kumbayana memasuki singgasana sambil berteriak memanggil Arya Sucitra. Rupanya Sucitra yang sudah bergelar Prabu Drupada merasa malu melihat sahabatnya masuk tanpa sopan santun memanggil namanya. Patih Gandamana tanggap melihat kemarahan Prabu Drupada. Tanpa pikir panjang, Gandamana melabrak Kumbayana dan diseret keluar dari istana.

Kumbayana diperlakukan seperti gelandangan dan dihajar di alun-alun oleh patih Gandamana. Wajah Kumbayana yang tadinya ganteng menjadi rusak dan cacat permanen akibat dihajar oleh Patih Gandamana. Prabu Drupada bukannya datang melerai malah mendiamkan Kumbayana dihajar Gandamana. Hati Kumbayana remuk dan sakit hati diperlakukan semena-mena oleh Prabu Drupada.

Berita Terkait : Kearifan Sumbadra Larung

“Durna ingin balas dendam dengan masa lalunya, Mo,” celetuk Petruk dari tadi menyimak cerita Romo Semar. “Betul, Tole. Durna belum bisa move on melupakan masalah pribadinya dengan Drupada. Dengan ilmunya Durna ingin balas dendam kepada Drupada. Padahal Ilmu pengetahuan harus netral tidak boleh dibawa-bawa ke ranah politik. Apalagi dipakai untuk balas dendam seperti yang dilakukan Durna dengan memanfaatkan padepokan Sokalimo untuk melawan Drupada,” sahut Semar. Oye