Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ancaman Kenaikan Harga Pupuk

Jumat, 26 Nopember 2021 07:15 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Anggota Komisi Konstitusi MPR 2004

RM.id  Rakyat Merdeka -
Oleh: Prof. Tjipta Lesmana
Pemerhati
Ketahanan Pangan

Tiga minggu terakhir, menurut berita di layar televisi, paling tidak ada 3 pabrik pupuk liar digulung polisi. Fenomena tahun 2017 tampaknya mulai tumbuh kembali. Pada tahun 2017, 2 pabrik pupuk liar di Sukabumi digulung polisi, sekali lagi di kabupaten Bekasi dengan produksi sekitar 3,5 ton pupuk.

Berita Terkait : Andika Perkasa, Pilihan Tepat Presiden

Kenapa muncul pabrik pupuk liar? Antara lain karena cukup banyak petani yang kesulitan mengaku mendapatkan pupuk subsidi. Alasan lain: harga pupuk liar lebih murah dibandingkan pupuk resmi yang dijual pemerintah.

Beberapa waktu yang lalu, ketika kami diundang RRI untuk bincang-bincang soal pupuk, tidak sedikit petani (entah benar petani atau bukan) yang “berteriak” kesulitan mendapatkan pupuk pemerintah. Hal itu terekam dalam sesi bincang-bincang dengan masyarakat tani.

Berita Terkait : Memalukan, Silat Lidah PDIP & Demokrat

Tentu gejala ini patut memprihatinkan. Pupuk komoditas vital dalam pertanian. Jika benar ada kelangkaan pupuk di pasar, atau diam-diam membubung harganya, petani akan terpukul. Pada akhirnya, ketahanan pangan bisa terancam. Maka, pemerintah dan segenap stakeholders komoditas pupuk tidak boleh tinggal diam.

Tapi, dewasa ini ada berita yang memprihatinkan lagi mengenai pupuk. Pandemi Covid-19 yang panjang memukul berbagai industri penting di berbagai negara, khususnya Eropa dan RRT. Sejak September yang baru lalu, harga gas di Eropa – pukul rata – mencapai USD 25/MMBTU, harga tertinggi yang sebelumnya belum pernah terjadi. Semua orang tahu, gas adalah bahan baku utama pembuatan pupuk urea, hampir 70%! Kenaikan gas otomatis mengancam kenaikan biaya produksi pupuk.
 Selanjutnya