Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tunda Dulu Ambisi Ekspor Beras (2/Selesai)

Jumat, 27 Agustus 2021 08:20 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Pengamat politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Satu bukti lagi, para petinggi Kementerian Perdagangan memang sering “ngaco" menghitung surplus/minus produksi beras nasional. Mind-set yang “suka impor beras”getol tampaknya, menjadi penyebab utamanya. Ketika Kementerian Perdagangan impor beras sebanyak 2 juta ton, Kementerian Pertanian sudah wanti-wanti menolak, tapi suara Amran Sulaeman, konon, kalah di Ratas Terbatas Kabinet yang dipimpin oleh Menko Perekonomian. Faktanya, setelah impor 2 juta ton dari Thailand dan Vietnam, harga beras di pasar ketika itu tetap saja tinggi. Jadi, tingginya harga beras dalam negeri bukan disebabkan kekurangan beras, tapi faktor XYZ lainnya. Alhasil, Budi Waseso selaku Dirut Bulog, waktu itu, “pusing 7 keliling” untuk menyingkirkan stok beras yang membludak di gudang Bulog.   

Berita Terkait : Tunda Dulu Ambisi Ekspor Beras (1)

Tahun ini, menurut data BPS dan Kementerian Pertanian, panen padi dan produksi beras juga menggembirakan.  Namun, untuk cepat-cepat bermimpi ekspor beras, sebaiknya jangan dulu dan wait-and-see, jangan terburu-buru. Awas, virus Covid-19 masih bergentayangan, bahkan masih bisa mengobrak-abrik Tanah Air.  Di banyak negara seperti Vietnam, Brunei, Selandia Baru dan Amerika Serikat, virus ini masih jadi ancaman serius. Perdana Menteri Malaysia terguling karena tidak mampu menjinakkan Corona sehingga menyengsarakan rakyat, karena perekonomiannya yang lunglai.            

Berita Terkait : Renungan Atas Jatuhnya Kabul

Memang angka positif dan angka kematian Corona di negara kita terus menurun. Tapi, angka itu tetap masih bisa up-and-down, karena varian Delta dan varian lainnya, masih terus mengancam umat manusia di manca negara, termasuk Indonesia.            

Berita Terkait : Hiruk-Pikuk Hibah Rp 2 Triliun

Maka, pesan Presiden Jokowi kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tidak berlebihan. “Kementerian Pertanian harus mendahulukan kebutuhan nasional sebelum mengekspor beras. Dikalkulasi lagi stok yang ada, harus cukup untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu.”       
 Selanjutnya