Dewan Pers

Dark/Light Mode

Prof. J.E. Sahetapy: Pintar Dan Berani

Rabu, 22 September 2021 08:30 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Pengamat politik

RM.id  Rakyat Merdeka -  Kemarin, sekitar pukul 09:30 saya dapat WA dari seorang teman berisi foto dengan caption: “In Loving Memory” 8 Juni 1932-21 September 2021, Prof. DR. J.E. Sahetapy S.H., M.A. Saya terkejut, sambil mencermati foto sosok Guru Besar dengan pakaian kebesaran Prof-nya.

Berita Terkait : 44 Napi Tewas, Menkumham Tidak Bisa Lepas Tangan

Saya jawab spontan: Saya merasa kehilangan! Waktu di forum ILC, saya dan Prof. Sahetapy selalu disandingkan berdua, selalu diberikan kesempatan berbicara terakhir oleh Host ILC, Karni Ilyas. Seolah dua sosok ini primadona acara itu: keduanya sama-sama keras.

Berita Terkait : Siapa Menikmati Subsidi Pupuk?

Ya, saya merasa kehilangan dan sedih atas kepergian Prof. Sahetapy. Di mata saya, beliau ilmuwan yang cerdas, berani menyuarakan sikap dan pandangannya, meski sampai menohok atau menyinggung orang lain, siapa pun dia. Prof. Sahetapy selalu bicara dengan konteks amat rendah, tanpa tedeng aling-aling. Di forum ILC, jika dia bicara, hening suasana ruangan, semua seakan mendengarkan sungguh-sungguh setiap kata yang terlontar dari mulutnya.

Berita Terkait : Tunda Dulu Ambisi Ekspor Beras (2/Selesai)

Suatu ketika, Prof. Sahetapy semprot seorang Guru Besar Hukum Pidana yang hadir di forum itu. Ia nilai pendapat “lawannya” itu ngawur. “Saudara jangan sombong, sok paling tahu ya! Jangan lupa, kalau bukan karena saya, saudara tidak bisa jadi Doktor! Masih ingat?!” berondong Sahetapy dengan suara keras. Guru Besar “lawannya” itu bungkam 100%, seluruh hadirin pun tidak berani menanggapi apa yang diteriakkan oleh Prof. Sahetapy.
 Selanjutnya