Dewan Pers

Dark/Light Mode

Inovasi Dan Kearifan Tembang Pucung

Senin, 10 Januari 2022 06:20 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Penggabungan beberapa lembaga riset nasional ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) disikapi berbeda oleh beberapa tokoh. Seperti biasa pro dan kontra atas peleburan entitas lembaga keilmuan nasional tersebut menimbulkan gonjang-ganjing di kalangan para cendekia. Kegaduhan tidak akan terjadi seandainya para pihak mau duduk bareng untuk mencari solusi yang cerdas.

Pupuh tembang Pucung mengatakan; Ngelmu iku kelakone kanti laku. Jejering klawan kas. Kas tegese nyantosani. Setyo budyo pangekese dur angkara. Kalau diterjemahkan bebas sebagai berikut; Ilmu bermanfaat harus melalui sebuah proses atau laku. Tegaknya sebuah ilmu atau riset harus didukung oleh dana atau kas yang cukup. Berjanjilah dengan ilmu tersebut untuk memajukan budaya dan peradaban serta mencegah perilaku angkara murka. Keempat pupuh tembang Pucung tersebut kalau dijabarkan dapat digunakan sebagai acuan ke mana arah badan paneliti kita ke depan.

Profesor Malik Fadjar pernah memberikan wejangan kepada saya sehabis wisuda doktor beberapa tahun silam. Jadilah doktor yang suka manggung dan berkarya. Sehingga ilmumu bermanfaat dan dapat dinikmati rakyat banyak. Itulah hakekat seorang doktor mampu memberikan pencerahan baik melalui kajian, tulisan dan riset.

Berita Terkait : Ramalan Kalingga Jati Tahun 2022

“Wong pinter kalah sama wong bejo, Mo,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar tidak bernafsu untuk ikut nimbrung urusan para pinter. Romo Semar justru sedang galau dengan krisis energi yang terjadi di tanah air. Sehingga Pak Jokowi harus repot turun tangan melarang ekspor batu bara selama sebulan. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam tidak semestinya kita mengalami krisis energi. Padahal era transisi energi belum dimulai. Potensi energi panas bumi kita nomor dua di dunia. Namun baru sekitar sepuluh persen yang dimanfaatkan untuk tenaga listrik. Padahal panas bumi kita membentang dari Padang Sumatera hingga Maluku. Masih tingginya investasi di sektor energi panas bumi membuat investor belum tertarik untuk menggarap potensi energi baru terbarukan yang ramah lingkungan tersebut.

Kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Bau tanah basah akibat guyuran hujan semalam membuat suasana pagi kurang selera untuk mensruput kopi kentel bikinan Ibu Kanestren. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Semar ke zaman Mahabarata saat tuntutan pembubaran padepokan Sokalimo menguat.

Kocap kacarito, Patih Sengkuni tidak happy dengan hasil pendidikan Pandito Durna kepada para Kurawa. Durna didapuk sebagai gurunya para Kurawa dan Pandawa. Adipati Drestarastra mengizinkan padepokan Sokalimo sebagai tempat pendidikan dan pusat riset untuk menggembleng Kurawa dan Pandawa. Namun hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Satria Pandawa lebih sakti dan cerdas dibandingkan Kurawa. Padahal Hastina sudah menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk pendidikan mereka.

Berita Terkait : Varian Omicron Dan Era Deglobalisasi

Sengkuni menuduh Durna pilih kasih terhadap para siswanya. Durna condong kepada satria Pandawa dibanding Kurawa. Durna telah bermain politik dengan memihak Pandawa. Mendapat serangan Sengkuni, Pandita Durna tidak begitu saja menerima tuduhan tersebut. Tugas seorang guru mirip seorang petani yang menyemai benih di sawah. Baik buruknya hasil panen tergantung dari subur tidaknya tanah sawah yang digarap. Pandawa lebih subur dari Kurawa. Para Kurawa malas untuk mengikuti proses pembelajaran yang diberikan seorang guru. Maka hasilnya Pandawa lebih cerdas dibanding Kurawa.

“Ngelmu iku kanti laku ya, Mo,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Ilmu melahirkan sebuah inovasi yang berguna bagi rakyat banyak. Selain itu para cendekia harus diberikan kebebasan untuk berpikir dan berkarya. Jangan ditarik ke wilayah politik atau kekuasaan,” sahut Semar.

Kekuasaan dan politik bisa berganti setiap saat. Akan tetapi investasi di bidang ilmu pengetahuan memerlukan waktu cukup lama. Untuk itu perlu kecerdasan dalam menyikapi gonjang-gonjing para pinter tersebut. Oye