Dewan Pers

Dark/Light Mode

Varian Omicron Dan Era Deglobalisasi

Senin, 27 Desember 2021 06:27 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Munculnya varian Omicron bukan saja meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi pandemi. Khususnya, menyambut liburan Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain, Omicron ternyata mempercepat tranformasi digital dan budaya.

Beberapa tahun terakhir, istilah globalisasi identik dengan budaya barat. Segala sesuatu yang berbau barat atau Westernisasi menjadi kiblat dunia. Sebagai contoh, film-film Hollywood yang mampu mengubah budaya beberapa negara.

Namun, masifnya Covid-19 mengubah tatanan kehidupan kita. Mulai dari perilaku budaya dan teknologi. Budaya tolong menolong antar sesama, semakin banyak ditemui selama masa pandemi berlangsung. Kiblat terhadap media barat mulai bergeser. Kalau dulu orang bangga menonton film-film barat, dengan teknologi streaming orang mulai menyukai konten-konten budaya lokal.

Berita Terkait : Refleksi Zaman Kalabendu

"Zaman sudah berubah Mo. Kita memasuki era deglobalisasi," celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar hanya mesem tidak mau berkomentar terlalu banyak. Romo Semar sedang prihatin dan sedih dengan naiknya harga-harga bahan pokok mulai dari minyak goreng, telur dan cabe. Belum lagi bahan bakar jenis premium dan pertalite rencananya akan dihapus. Padahal, kedua jenis bahan bakar tersebut banyak diperlukan rakyat kecil.

Blueprint energi chart kita mengalami defisit sejak sepuluh tahun terakhir. Kebutuhan energi tidak seimbang antara kebutuhan dan produksi. Lifting atau produksi minyak dan gas terus merosot, sekitar 600 ribu barel per hari. Sedangkan kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri sekitar 1,6 juta barel per hari. Defisit satu juta barel harus dipenuhi melalui impor dari negara lain. Hal ini disebabkan minimnya investasi baik bidang ekplorasi maupun ekploitasi untuk sumur-sumur baru.  

Seperti biasa kopi pahit selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kudapan nasi tiwul dan urap daun papaya dibiarkan dingin. Kepulan asap rokok klobot mengingatkan peristiwa pagebluk di kerajaan Amarta. 

Berita Terkait : Kutukan Rama Bargawa

Kocap kacarito, Prabu Puntodewa tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi pagebluk yang menyerang kerajaan Amarta. Rakyat mengalami larang sandang larang pangan. Berbagai penyakit menular menambah derita para kawulo. Semar sebagai pamong satria Pandawa sebagai tempat mengadu pergi atau murca tanpa pamit. Dalam kedaan panik, Puntodewa minta saran kepada Prabu Kresna.

Menurut Prabu Kresna keadaan pagebluk Amarta bisa pulih jika para satria Pandawa bisa memboyong kembali Semar Badranaya. Pagebluk dan bencana yang menyerang Amarta disebabkan Para Pandawa mulai meninggalkan Semar dan kurang bersyukur kepada Sang Pencipta. Maka diutuslah Arjuna untuk mencari keberadaan Semar. Karena, selama ini Arjunalah yang paling dekat dengan Semar.

Bagi Arjuna tidaklah susah mencari keberadaan Semar. Sebagai pamong sejati Semar sedang berada di Khayangan Awang-Awang Kumitir tempat Shang Hyang Wenang bersemayam. Semar komplain dan mengadu kepada Hyang Wenang terhadap perilaku para Pandawa yang mulai meninggalkan perilaku luhur. Satria Pandawa sudah tidak konsisten terhadap janji-janji kepada rakyat Amarta. Sehingga, rakyat mengalami pagebluk kurang sandang dan pangan. 

Berita Terkait : Erupsi Jonggring Seloko

Kedatangan Arjuna untuk menjemput Semar agar kembali ke Amarta tidak digubris. Semar masih marah dan tidak mau kembali sebelum Pandawa berubah perilakunya. Atas saran Sang Hyang Wenang, akhirnya Semar mau kembali ke Amarta . Sebagai piyandel, Shang Hyang Wenang memberikan “wahyu katentreman” sebagai pegangan Semar momong Pandawa.

“Pagebluk kapan selesainya Mo”, sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Pagebluk merupakan ujian bagi kita semua Tole”. Jawab Semar. Pagebluk tidak selamanya jelek. Pagebluk harus kita sikapi dengan kesabaran. Karena, di balik pegebluk ada berkah Gusti yang tersembunyi. Termasuk perilaku saling membantu antar sesama, serta mulai tumbuhnya kesadaran terhadap budaya kita sendiri. Oye