Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur’an (7)

Teomorfisme Al-Qur’an (2)

Rabu, 29 Maret 2023 06:59 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Banyak orang yang secara teori memahami seluk beluk wahyu, bahkan mereka mendapatkan gelar dalam bidang Studi Al-Qur’an, namun bukan jaminan yang bersangkutan bisa merasakan kehadiran wahyu di dalam hati sanubarinya.

Kedalaman wahyu tidak sama bagi setiap orang. Ada yang baru sampai dalam tingkat memahami secara umum (knowing), ada yang memahami secara mendalam (understanding), ada yang memahami sekaligus menghayati dan merealisasikannya (realizing). Inilah arti dan makna kata iqra’ diperintahkan berulang-ulang oleh Jibril, yakni jangan berhenti di taraf iqra’ pertama (knowing), iqra’ kedua (understandiung) tetapi harus sampai ke taraf iqra’ ketiga (realizing).

Baca juga : Teomorfisme Al-Qur’an (1)

Masalahnya sekarang bagaimana metode untuk sampai ke tingkat iqra’ ketiga, sebuah tingkatan yang mampu menyuguhkan suasana batin ‘merasakan kehadiran wahyu’ di dalam batin. Merasakan kehadiran wahyu berbeda dengan merasakan kehadiran ilham, ta’lim, atau inspirasi cerdas. Dengan kata lain, beda rasa wahyu dan rasa ilham atau ta’lim. ‘Rasa wahyu’ diisyaratkan dalam ayat: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal (Q.S. al-Anfal/8:2).

Bandingkan dengan ayat lain: (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka (Q.S. al-Haj/22:35).

Baca juga : Antara Makna Eksoterik Dan Esoterik Al-Qur’an

Yang dimaksud kata ‘bergetarlah hati mereka’ (wajilat qulubuhum) dalam ayat di atas ialah identifikasi paling mendalam di dalam hati akan keberadaan wahyu suci di dalam batin. Jika feeling itu sudah hadir maka seseorang bukan lagi memiliki kemampuan memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ayat-ayat Al-Qur’an sudah mampu menafsirkan diri yang bersangkutan.

Dengan demikian, Al-Qur’an dan manusia saling menafsirkan satu sama lain (Al-Qur’an yufassiru ba’dhuhum liba’dh). Tidak heran jika ada orang samasekali tidak memahami bahasa Arab, apalagi memenuhi 13 syarat formal seorang mufassir sebagaimana dinyatakan oleh ulama tafsir.

Baca juga : Struktur Makna Esoterik Al-Qur’an

Mungkin orang belum mauk kategori mufassir tetapi sudah mampu menjadi mufahhim Al-Qur’an. Bedanya ialah, mufassir memiliki otoritas dan legitimasi khusus sehingga bisa menjadi hujjah bagi orang lain. Sedangkan mufahhim kurang memiliki otoritas dan legitimasi, dan dibatasi hanya menjadi konsumsi untuk dirinya sendiri atau di lingkungan murid-murid khususnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.