Dark/Light Mode
Teologi Lingkungan Hidup (111)
Resakralisasi Alam Semesta: Memperbaharui Sistem Teologi (1)
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Maximilian Karl Emil Weber yang lebih popular dengan nama Max Weber (1864-1920), seorang sosiolog Jerman pernah mengungkapkan tidak mungkin bisa merubah perilaku suatu masyarakat tanpa merubah sistem etikanya, dan tidak mungkin merubah sistem etika tanpa merubah sistem teologi masyarakat tersebut. Jika perilaku masyarakat ada yang salah terhadap alam semesta berarti sistem etika dan teologi masyarakat tersebut ada yang harus ditinjau.
Sistem teologi dan etika masyarakat tradisional pra-modern menganggap kekuatan yang mengatur alam semesta bukan Tuhan supernatural yang bersemayam di langit, jauh terpisah dengan alam semesta, tetapi kekuatan itu intrinsic di dalam diri sang alam itu sendiri. Kekuatan itu sulit dirasionalkan tetapi kehadirannya dapat dirasakan.
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta: Dampak Desakralisasi Alam Semesta (2)
Mungkin kekuatan itulah yang disebut sebagai Atma atau Brahma Nirguna di dalam agama Hindu, sebuah kekuatan yang meresap di dalam segala sesuatu tetapi tidak identik dengan sesuatu itu.
Ia merupakan sebuah energi sakral yang lebih dalam, lebih tinggi, dan lebih fundamental daripada para dewa.
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta: Dampak Desakralisasi Alam Semesta
Pandangan agama Hindu mirip dengan kepercayaan masyarakat primitif-tradisional yang menganggap ala mini adalah wujud sakral, seperti halnya manusia.
Mungkin kekuatan itu juga yang dikenal dalam tradisi China dengan Dao, yang bermanifestasi secara universal di dalam segala sesuatu. Kehadirannya mirip dengan yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabi (1165-1240), seorang teosof sangat masyhur di dalam Islam menyatakan: Dakhilun fi al-asyya; la bil mumazajah, wa kharijun ‘anha la bil muzyalah (masuk ke dalam sesuatu tetapi tidak bercapur, keluar dari segala sesuatu tetapi tidak terpisah).
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta: Mendamaikan Mitos Dan Logos (2)
Ibn ‘Arabi menganggap alam semesta ini, tak terkecuali manusia, jin, dan malaikat, tidak lain adalah manifestasi (tajalli) Allah SWT. Bahkan Ibn ‘Arabi menganggap alam semesta bukanlah wujud hakekat, melainkan hanya wujud bayangan yang relatif (mumkin al-wujud), Hanya Allah SWT yang merupakan Sang Wujud Hakiki (wajib al-wujud). Dengan demikian, alam semesta ini meskipun bukan Sang Wujud Hakiki tetapi bersumber dari Dia maka dengan sendirinya ala mini juga sakral, namun tentu tidak sesakral dengan Sang Wujud Hakiki.
Konsep sakralitas alam menurut Ibn ‘Arabi bertingkat-tingkat, mulai dari alam Syahadah sampai pada alam Jabarut.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.