Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
Sebelumnya
Ritual ini juga untuk menguji ketaatan dan kesabaran jamaah haji. Dalam keadaan ramai dan kondisi fisik yang mungkin lelah, jamaah haji tetap melaksanakan pelemparan jumrah dengan penuh disiplin dan kesungguhan.
Hal ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan ketaatan dalam menghadapi ujian hidup. Pelemparan Jamarat mengingatkan umat Islam akan sejarah penting dalam kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Hal ini menghubungkan jamaah haji dengan sejarah keimanan dan pengorbanan yang besar, serta memperkuat rasa persatuan dan solidaritas di antara umat Islam.
Baca juga : Rahasia Melempar Jamarat (1)
Pelemparan Jamarat juga dapat dimaknai sebagai usaha untuk membebaskan diri dari keterikatan terhadap hal-hal duniawi. Melemparkan batu ke jumrah merupakan simbol bahwa jamaah haji siap meninggalkan segala keterikatan materi dan fokus pada kehidupan spiritual dan pengabdian kepada Allah.
Dengan memahami makna dan rahasia di balik pelemparan jumrah, diharapkan jamaah haji dapat melaksanakan ritual ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, serta mendapatkan hikmah yang lebih dalam dari setiap tahapan ibadah haji yang dijalankan.
Baca juga : Di Balik Keheningan Malam Muzdalifah
Di dalam melaksanakan pernitah melempar Jamarat ini, seseorang tidak mesti melakukan hal-hal yang di luar kontrol, sehingga menempiaskan kebenciannya kepada setan dengan cara melemparkan apapun yang ada di sekitarnya. Tidak sedikit di antara jamaah melemparkan sandal dan Sepatu, bahkan tas-tas bawaannya.
Yang paling penting pada saat pelemparan Jamarat ini ialah pembebasan diri dari ketertarikan kita kepada dunia materi secara berlebihan. Boleh jadi “Ismail-Ismail” yang harus dikurbankan ialah ego dan pikiran subyektif kita. Apa yang paling kita cintai misalnya kendaraan, rumah, perhiasan emas, dan deposito, atau surat-surat berharga lainnya, bisa menjadi “Ismail-Ismail” kita. Kita tidak boleh memuja “Ismai-Ismail” tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita meninggalkan kewajiban agama lantaran sibuk mencari harta duniawi, inilah yang harus dikorbankan.
Baca juga : Makna Spiritual Wukuf Di Arafah
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 14 Juli 2024 dengan judul "Teosofi Haji (47) Hikmah Pelemparan Jamarat"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.