Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
Sebelumnya
Menurut Imam Al-Gazali, wilayah paling berkah ialah yang paling dekat dengan Ka’bah. Ia menggambarkan bahwa Ka’bah adalah pusat grafitasi spiritual. Semenjak Ka’bah dibangun tidak pernah berhenti diputari oleh manusia dan makhluk spiritual seperti jin dan malaikat. Mereka juga ikut berthawaf disekeliling Ka’bah. Ibarat sebuah turbin yang selalu hidup dan aktif mengalirkan dan memancarkan energi batin. Energi di sekitarnya bisa meluruskan jalan pikiran yang bengkok, melunakkan hati yang keras, dan memutihkan hati yang kotor. Energi Ka’bah juga bisa menyedot dan menghisap para jamaah haji dan umrah ke dalam lingkaran pusat mahnit spiritual. Seolah-olah pusat mahnit ini mampu menyedot seluruh dosa dan kotoran para tamu Allah Yang Maha Pengasih (dhuyuf al-Rahman).
Wajar jika dikatakan di dalam hadis Nabi bahwa satu shalat disamping Ka’bah ssepadan dengan 100.000 kali shalat di luarnya. Orang yang shalat di dalam radius inner circle Kab’bah bagaikan berada di dalam lautan berkah. Inilah sesungguhnya yang disebut dengan Makkah yang penuh berkah, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.
Baca juga : Ka’bah Sebagai Rumah Pembebasan
Banyak jamaah haji dan umrah sepertinya memegang pendapat Imam Al-Gazali. Mereka tidak memperdulikan panas terik demi mencapai pelataran bagian dalam Ka’bah. Sekalipun harus berdesak-desakan. Dalam musim haji terkadang kita menyaksikan orang-orang bergantian sujud karena begitu padatnya jamaah di sekitar Ka’bah. Padahal, jika orang mau berpegang kepada petunjuk yang diperoleh Ibn Arabi, maka shalat di dalam pelataran Ka’bah atau shalat di masjid-masjid lain di dalam Kota Suci Mekkah sama saja.
Masalahnya adalah soal perasaan. Bagaimanapun menghadap dan sekaligus menyaksikan Ka’bah secara fisik jauh lebih khidmat ketimbang hanya sahalat dengan menghadap kea rah Kiblat.
Baca juga : Meneguhkan Visi Kehidupan
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Jumat, 19 Juli 2024 dengan judul "Teosofi Haji (42) Batas Tanah Haram"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.