Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Krisis lingkungan yang semakin parah ditandai dengan munculnya berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, anomali cuaca, pemanasan global, dan berbagai ancaman gangguan alam lainnya, mendorong lahirnya kesadaran kolektif Masyarakat dunia untuk meninjau ulang pola relasi manusia dengan alam semesta.
Kalangan ilmuan dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk disiplin teologi, mulai menyadari bahwa dunia mitos tetap relevan untuk dibicarakan. Kini dipandang bukan lagi saatnya mempertentangkan konsep mitos dan logos di dalam pengelolaan alam semesta.
Baca juga : Mengontrol Social Saving
Mereka menyadari perlunya mempertimbangkan kembali konsep relasi harmonis antara alam, manusia, dan Tuhan yang ditawarkan dan diserukan oleh agama-agama besar seperti Hindu, Budha, dan khususnya agama Islam. Dalam Al-Qur’an sudah sejak awal memperingatkan risiko apa yang akan diderita umat manusia jika mereka gagal memelihara relasi harmonis dengan alam.
Al-Qur’an mengkonsepsikan sinergi alam semesta untuk memberikan energi bagi manusia dalam mendukung kapasitasnya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi (Q.S. al-Jatsiyah/45:13). Manakala terjadi ketimpangan antar makrocosmos maka itu isyarat manusia teracm bahaya besr yang tak dapat diramalkan. Kerusakan fisik dan non-fisik alam semesta menurut Al-Qur’an, terutama disebabkan oleh ulah tangan-tangan jahil anak manusia (Q.S. Al-Rum/30:41).
Baca juga : Dimulai Dengan Niat Yang Luhur
Manusia menurut Al-Qur’an mempunyai tiga unsur pokok, yaitu badan (jasad), nyawa (nafs), dan Roh (ruh) (Q.S. Al-Mu’minun/23:14). Ketika manusia masih terdiri atas anggota badan dan nyawa, belumlah sempurna sebagai manusia.
Roh sebagai unsur ketiga (khalqan akhar) “diinstol” ke dalam diri manusia ketika berumur 120 hari (Lihat dalam Hasyiyah Ibn Abidin, Juz II hal. 302). Unsur ketiga manusia itulah yang menjadikan dirinya sebagai prototype makhluk final (ahsan taqwim/Q.S. Al-Tin/95:4). Manusia menjadi makhluk biologis sekaligus sebagai makhluk spiritual. Dua kapasitas ini memungkinkan dirinya mengakses dua dunia yang berbeda, yaitu dunia fisika dan metafisika, atau dunia lahir dan dunia batin.
Kelengkapan hardware yang diistimewakan kepada manusia memungkinkannya untuk mengakses seluruh energi dari luar dirinya. Energi alam raya ditundukkan (taskhir) kepada manusia, terutama untuk mendukung kapasitasnya sebagai representatif Tuhan di jangat raya (khalaif al-ardl). Bukanlah sesuatu yang aneh jika ada seseorang atau sekelompok mampu merekayasa energi-energi alam untuk disalurkan ke suatu obyek, misalnya kepada manusia. Apakah melalui injeksi yang selama ini banyak di lakukan di dunia kesehatan, atau melalui transfoprmasi energi spiritual, seperti yang sering dilakukan kalangan ahli spiritual melalui doa-doa atau media-media tertentu, seperti sering dilakukan oleh komunitas Reiky.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Senin, 22 Juli 2024 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup, Fenomena New Consciousnes"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.