Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Salah satu tujuan jamaah haji menunaikan ibadah haji agar ia dapat melakukan pertobatan dan tobatnya diterima, terutama di tempat-tempat mustajabah. Taubat dari akar kata taba-yatubu-taubah berarti kembali, yakni kembali ke atas jalan yang benar setelah menempuh jalan sesat. Kembali menyadarkan diri kita bahwa selama ini kita keliru di dalam menempuh jalan kehidupan.
Secara implisit, seorang yang bertaubat mengembalikan dirinya kepada Allah SWT seraya memohon pengampunan dan berikrar untuk meninggalkan secara permanen kekeliruan dan kesalahan yang selama ini dilakukan.
Taubat itu bertingkat-tingkat. Syekh Ibn ‘Athaillah rahimahullah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah ialah sikap taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiyat yang telah dilakukannya, sehingga terbayang di benaknya kerugian besar di dunia dan siksa dan malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka. Dosa dan maksiyat yang pernah dilakukannya membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT.
Baca juga : Belajar Menerima Kenyataan
Dalam suasana takut seperti itu, ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah. Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya. Siang dan malam selalu melakukan ketaatan kepada Allah dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa).
Sedangkan taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya. Taubat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiyat sebagaimana dalam tahap taubat inabah.
Taubat istijabah ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya ketimbang panasnya api neraka-Nya. Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT. Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWTdengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya tetapi malah melakukan dosa dan maksiyat. Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya. Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk ke dalam neraka. Seandainya disuruh memilih disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya maka ia akan memilih disiksa di neraka.
Baca juga : Fenomena New Consciousnes
Pertanyaan kepada diri kita, jenis tobat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiyat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksyat? Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiyat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT? Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiyat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiyat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun.
Kita sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.
Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figur keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita? Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita. Di depan mereka, kita malaikat tetapi di luar sana kita iblis.
Baca juga : Mengontrol Social Saving
Sudah saatnya kita berubah dan sudah saatnya kita menyadarkan diri sesadar-sadarnya kepada Allah SWT. Hidup ini semakin tidak menentu dan sulit diprediksi karena banyak faktor. Ada virus Corona yang menjemput orang secara tiba-tiba. Ada tanah longsor, hujan deras mendatangkan banjir bandang, gempa bumi, longsor, gunung meletus, kapal selam tenggelam, pesawat jatuh, dan kecelakaan lalu litas. Kesemuanya menelan korban secara tiba-tiba. Mari kita sadar!
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 24 Juli 2024 dengan judul "Teosofi Haji (44) Haji Sebagai Sarana Pertobatan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.