Dark/Light Mode

Al-Quran Dan Antropomorfisme

Sabtu, 27 Juli 2024 05:55 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Makhluk lain tidak terkecuali malaikat, tidak mungkin berdosa karena tidak memiliki quwwah jalaliyyah. Mereka hanya memiliki quwwah jamaliyyah. Malaikat dan makhluk lainnya hanya bisa merepresentasikan aspek perbedaan dan ketakterbandingan (tanzih) Tuhan, tetapi tidak bisa merepresentasikan aspek keserupaan dan keterbandingan (tasybih)-Nya.

Dengan kombinasi kedua kekuatan yang dimiliki, manusia mampu mencapai maqam “sintesa ketuhanan” (al-jam’yyat al-ilahiyyah). Manusia mampu menampilkan sifat-sifat jalaliyyah disamping sifat-sifat jamaliyyah Tuhan. Tidak heran jika manusia mampu mencapai ma’rifah tingkat lebih tinggi, yaitu maqam Qaba Qausain, dan selanjutnya ke maqam Adna, sebagaimana diilustrasikan dalam ayat: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan, hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (Q.S. Al-Najm/53:7-14).

Baca juga : Membiasakan Istiqamah

Manusia sesungguhnya dalam fitrahnya sudah memahami dan sekaligus menyadari sepenuhnya setiap akibat atau kenyataan apapun yang menimpa dirinya merupakan konsekwensi dirinya sebagai makhluk yang menjadi locus/madhhar Allah SWT. Tidak mungkin manusia secara kolektif bersih dari dosa seperti halnya malaikat. Manusia sengaja diciptakan sebagai locus/madhhar sejumlah Nama Indah Tuhan (al-Asma’ al-Husna’). Sebagi contoh, Allah SWT mempunyai nama Maha Pencipta (al-Khaliq) dan Maha Pemberi (al-Wahhab). Sulit kita bayangkan Allah SWT Maha Pencipta dan Maha Pemberi tanpa ada makhluk dan obyek yang akan menerima pemberian. Demikian pula Allah Maha Penerima Taubat (al-Tawwab), Maha Pengampun (al-Gafur), dan Maha Pemaaf (al-’Afuw). Sulit dimengerti asma’ yang demikian tanpa ada makhluk pendosa.

Mungkin dari sisi ini Rasulullah pernah menjelaskan dalam hadisnya: “Seandainya semua manusia tidak ada lagi yang berdosa maka Allah SWT pasti akan menciptakan makhluk lain yang berdosa”. Tanpa makhluknya yang berdosa berarti Tuhan Maha Mengampun, Maha Penerima taubat, dan Maha Pemaaf hanya akan menjadi wacana tanpa bukti, sementara Allah SWT Maha Sempurna dengan segala nama dan sifat-Nya.

Baca juga : Menjauhi Ujaran Kebencian (Hate Speech)

Perlu ditegaskan, bahwa meskipun manusia ditakdirkan untuk berdosa namun tidak bisa dijadikan alasan pembenaran dosa. Memang Allah SWT al-Gafur, al-Tawwab, dan al-’Afuw, tetapi Allah SWT juga Maha Pembalas (al-Muntaqim) dan Maha Adil (al-’Adl). Siapa tahu bukan diri kita yang didatangi Tuhan bukan sebagai al-Tawwab, al-Gafur, dan al-’Afuw maka malapetaka bagi kita. Jika kita sudah terlanjur berdosa, maka Allah SWT berhak membuka pintu maaf bagi yang dikehendakinya. Siapa yang dikehendaki untuk dimaafkan dan tidak dimaafkan, hanya Allah SWT yang Maha Tahu. Karena itu, manusia tidak boleh bermain-main dengan dosa dan harus menjauhi dosa jika ingin selamat dunia dan akhirat. (Devine Knowledge)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Sabtu, 27 Juli 2024 dengan judul "Al-Qur'an Dan Antropomorfisme"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.