Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Al-Qur’an turun dari langit ke bumi guna memungut manusia yang jatuh ke bumi untuk dikembalikan ke langit. Pembumian Al-Qur’an harus mampu melangitkan manusia. Jika pembumiannya tidak mampu mengangkat kembali martabat kemanusiaan, maka proses pembumian itu harus ditinjau kembali.
Humanisasi nilai-nilai Al-Qur’an tidak otomatis bahkan tidak boleh diartikan antroposentrisasi Al-Qur’an, yang pada saatnya akan mencabut kesakralan nilai-nilai Al-Qur’an. Pembumian Al-Qur’an harus dimaknai dalam bentuk pendekatan antropomorfis, yang memandang manusia sebagai makhluk biologis pada satu sisi, dan di sisi lain sebagai makhluk spiritual.
Bukan dalam bentuk pendekatan antroposentris yang membiologi-mutlakkan manusia atau teosentris sebuah bentuk pendekatan yang serba Tuhan, yang pada saatnya melahirkan pemikiran dehumanisasi manusia.
Baca juga : Membiasakan Istiqamah
Antroposentrisme tidak sejalan dengan Islam. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan manusia bukan murni sebagai makhluk biologis sebagaimana halnya hewan dan tumbuh-tumbuhan, melainkan memiliki unsur spiritual dalam bentuk ruh, sebagaimana dikatakan: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr/15:29).
Dalam ayat lain dipertegas lagi: Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. (Q.S. Shad/38:72).
Dengan demikian, manusia tidak bisa disebut makhluk yang lebih terkesan antroposentris, namun tidak benar juga disebut makhluk teosentris. Penulis setuju dengan istilah S.H. Nasr yang menyebut manusia sebagai makhluk teomorfis. Menurut Nasr, satu-satunya makhluk Tuhan yang teomorfis ialah manusia.
Baca juga : Menjauhi Ujaran Kebencian (Hate Speech)
Teomorfisme manusia tentu saja menjadi keutamaan manusia di antara seluruh makhluk. Namun dibalik keutamaan ini manusia juga memiliki tantangan yang luar biasa. Manusialah satu-satunya makhluk yang mau dan memiliki kemampuan mengemban amanah besar, ketika seluruh makhluk lainnya menolaknya, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh”. (Q.S. Al-Ahdzab/33:72).
Salahsatu bentuk teomorfisme manusia ialah di dalam dirinya tergabung dua kekuatan besar, yaitu kekuatan maskulin (quwwah jalaliyah) dan kekuatan feminine (quwwah jamaliyyah), sebuah kombinasi yang tidak dimiliki makhluk lain.
Kombinasi inilah yang memberi kemungkinan sekaligus kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah bumi (khalaif al-ardh). Namun menurut S.H.Nasr, kombinasi ini juga menjadikan manusia sebagai makhluk eksistensialisme, yakni makhluk yang bisa turun-naik martabatnya di sisih Allah SWT.
Baca juga : Haji Sebagai Sarana Pertobatan
Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. Al-Tin/95:4), tetapi manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/Q.S. Al-Tin/95:5, Q.S. Al-A‘raf/7:179).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.