Dark/Light Mode
Tausiah Politik
Sebelumnya
Hakekat manusia sebagai hewan berfikir (al-isan hayawan al-nathiq) sudah lama menjadi perdebatan konseptual para filosof, teolog, dan sufi. Inti perdebatannya ialah keberadaan roh di dalam diri manusia.
Para filosof dan teolog mengakui manusia memiliki dua dimensi, lahir dan batin atau jasad dan roh, namun mereka masih tetap menempatkan roh manusia sebagai bagian inheren bagi manusia.
Baca juga : Al-Asma al-Husna = Insan Kamil (?)
Roh adalah bagian kelengkapan diri manusia sebagai makhluk utama Tuhan, namun cenderung menolak roh sebagai unsur suci Tuhan yang masuk di dalam diri manusia. Manusia tetap sepenuhnya makhluk dan harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang diikhtiyarkannya.
Keberadaan roh dibahas secara rumit oleh berbagai ilmuan. Kalangan sufi cenderung menganggap roh dalam diri manusia sebagai unsur suci (Lahut) yang terselip di dalam diri manusia.
Baca juga : Jenis-jenis Perjalanan Spiritual (2)
Kalangan sufi juga masih ada yang memperdebatkan apakah roh yang ditiupkan di dalam diri manusia bagian dari makhluk atau bukan. Roh ini kemudian bukan hanya menempatkan manusia sebagai makhluk istimewa tetapi manusia dianggap sebagai madhhar, tajalli, atau manifestasi Tuhan. Manusia dianggap sebagai mikrokosmos, miniatur alam semesta. Bahkan manusia juga dianggap sebagai insan kamil jika ia mampu mempertahankan kredibilitas dirinya sebagai khalifah dan ‘abid. (Bersambung)
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Selasa, 8 Oktober 2024 dengan judul "Road-Map Menuju Langit (9) Hakekat Insan Kamil (1)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.