Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Jiwa akan sehat dan terpelihara kalau kita terbiasa berpikir sehat, proaktif, dan berorientasi kepada husnul khatimah, ending kehidupan yang baik dan ideal.
Khusus melakukan tugas dan pekerjaan sebaiknya diupayakan berorientasi kepada husnul khatimah/positive thinking. Melakukan pekerjaan dengan berorientasi husnul khatimah diawali dengan niat atau perencanaan yang luhur dan baik.
Kita harus berusaha menyingkirkan kesenangan dan kebahagiaan sesaat dengan mengorbankan prinsip dan nilai-nilai luhur kehidupan.
Jika kita berasumsi segalanya diciptakan dua kali, yaitu ciptaan mental (blue print) yang biasa diistilahkan dengan niat, dan ciptaan fisik atau eksekusi sebuah program dengan perhatian lebih fokus dan profesional, maka sudah barang tentu blue print-nya sesuai konsep husnul khatimah. Kita harus bisa memastikan bahwa semua perbuatan kita berangkat dari konsep husnul khatimah, diawali dengan niat yang baik dan luhur semenjak pemunculan awal gagasan itu (masyi’ah), lalu mengukur kemampuan (istitha’ah), dan terakhir ketika gagasan itu direalisasi atau dieksekusi (kasab) dipastikan sudah melalui wujud niat yang tepat.
Baca juga : Hidup Ini Adalah Seni
Pertama kita diminta untuk membuat perencanaan yang visible (blue print) yang sesuai dengan konsep husnul khatimah. Bule print tentunya harus didesain dengan konsep proaktif, bukannya reaktif. Harapan kita, apa yang direncanakan sejak awal itulah yang menjadi kenyataan.
Dengan demikian, sesungguhnya setiap perbuatan itu dilaksanakan dua kali. Sekali di dalam bentuk konsep dan kedua kalinya dalam bentuk actions.
Sedemikian penting hal ini, maka Allah pun mencontohkan Dirinya tidak melakukan perbuatan-Nya sekali tetapi selalu dua kali, yaitu sekali dalam bentuk blue print di Lauh al-mahfudh dan kedua kalinya dalam bentuk kenyataan di alam syahadah ini.
Kesemuanya ini memberikan hikmah betapa manusia juga sebaiknya mengerjakan perbuatannya dua kali, sekali dalam perencanaan dan kedua kalinya dalam bentuk actions (hasab).
Baca juga : Berlomba-lomba Dalam Kebaikan
Antara perbuatan pertama (niat) dan perbuatan kedua (actions) sedapat mungkin tidak terjadi perbedaan berarti. Apa yang ada di dalam konsep dan perencanaan itulah yang menjadi kenyataan.
Satu set antara niat dan perbuatan sesungguhnya itulah jalan lurus (shirath al-mustaqim). Perbuatan yang tidak sesuai dengan niat semula boleh jadi disebut jalan yang dimurkai Tuhan (al-magdhub) atau jalan sesat (al-dhalin). Keselarasan antara blue print (ciptaan pertama) dengan perbuatan (ciptaan kedua) membutuhkan kepemimpinan dan manajemen.
Manajemen dimaksudkan di sini tidak lain adalah adalah mengerjakan hal-hal yang baik dan benar secara konsisten. Melakukan perbuatan baik dan benar secara konsisten sesungguhnya juga memerlukan manajemen kalbu, yaitu pengelolaan kalbu secara baik dan benar. Caranya tentunya bagi umat beragama ialah konsisten mengikuti tuntunan ajaran agama secara telaten.
Untuk mencapai husnul khatimah di dalam urusan duniawi diperlukan penetapan sasaran-sasaran atau tujuan program yang dapat dicapai. Kita tidak boleh melupakan sasaran-sasaran tersebut.
Baca juga : Memupuk Cinta Sejati Antara Sesama Makhluk
Sesederhana apapun suatu tujuan tetap kita tidak boleh melupakannya. Karena itu, jangan pernah kita tidak menghargai hal-hal yang kecil dan sederhana dalam hidup ini, karena kebanyakan yang menggagalkan hidup seseorang bukan hal besar tetapi hal-hal kecil.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Sabtu, 21 Desember 2024 dengan judul "Berorientasi Husnul Khatimah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.