Dark/Light Mode

Beragama Dalam Keberagaman (55)

Kepercayaan Dewata Sewwae Bugis-Makassar (Bagian 2)

Kamis, 9 Januari 2025 06:05 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandangan kosmologi kepercayaan Attoriolong membagi tiga dunia. Pertama, dunia atas (langi), yaitu dunia para Dewa dan Dewata Sewwae, dunianya paling di atas. Kedua dunia tengah (lino), yaitu dunianya para manusia. Ketiga dunia bawah (peretiwi), yaitu bumi atau alam tempat manusia hidup.

Ketiga dunia ini masing-masing mempunyai penghuni dan para penghuni tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Agak mirip dengan mitologi Yunani bahwa prilaku mikrokosmos mempengaruhi prilaku makrokosmos. Manusia sebagai penghuni lino bisa berpengaruh positif atau negatif terhadap dunia langi dan peretiwi.

Manusia yang mengindahkan tradisi Attoriolong memberikan pengaruh positif, misalnya langit bersahabat dengannya, ditandai turunnya hujan rahmat, bumi juga bersahabat dengannya ditandai hasil panen melimpah.

Sebaliknya bisa juga menyebabkan langit menahan hujannya atau meruntuhkan airnya sehingga membawa malapetaka banjir, dan bumi menggagalkan panennya.

Baca juga : Kepercayaan Dewata Sewwae Bugis-Makassar (Bagian 1)

Pemujaan terhadap Dewata Sewwae merupakan suatu kemutlakan jika manusia menghendaki keserasian dan keselamatan hidup. Dewata Sewwae memiliki sifat-sifat kemutlakan.

Ia sering disebut dengan Dewata Sewwae Papunnaie (Tuhan YME yang memiliki segalanya, termasuk diri manusia), Dewa La Patigana (Tuhan Matahari) dan Dewi Tepuling. Dewata Sewwae melahirkan sejumlah Dewata (Rewata), yang merupakan asal usul Tomanurung, yang juga merupakan asal-usul seluruh penguasa dinasti Bugis, Makassar, dan Mandar.

Kedudukan Dewa-dewa selain Dewata Sewwae lebih merupakan malaikat. Dewa-dewa yang ada di bawahnya disejajarkan dengan Jin. Sedangkan Sangngiang Serri atau di dalam tradisi Hindu dikenal Sang Hyang Seri (Dewi Padi) tidak dianggap Dewi tetapi hanya sebagai “jiwa padi”.

Ini menjadi bukti bahwa beberapa kerajaan di Sulawesi pada waktu itu tidak mendapat pengaruh Hindu tapi masih memiliki adat istiadat dan kepercayaan leluhur yang kuat, ialah dengan cara penguburan, bukannya dibakar.

Baca juga : Ahmadiyah

Praktek penguburan pada masyarakat Bugis Makassar pada waktu itu masih mengikuti tradisi prasejarah, yaitu jenazah dikubur mengarah timur–barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur seperti mangkuk, cepuk, tempayan, bahkan barang–barang impor buatan China, tiram, dan lainlain. Bagi jenazah bangsawan di berikan penutup mata (topeng) dari emas atau perak.

Keterangan-keterangan tersebut di atas dapat ditelusuri di dalam Sure’ Lagaligo, yang sekarang sebagian masih tersimpan rapi di Perpustakaan Leiden, Belanda. Sure’ Lagaligo juga ditemukan bagianbagiannya di dalam masyarakat, namun atas kesadaran masyarakat, manuskrip langka ini umum nya sudah diamankan oleh pemerintah daerah.

Koleksi-koleksi pribadi sebagian sudah diamankan di museum dan copy-nya di sejumlah perpustakaan. Bagianbagian dari Sure’ Lagaligo sudah diangkat ke da lam bentuk karya seni yang bernilai tinggi, termasuk pementasan Ilagaligo, yang pernah mendapatkan sejumlah penghargaan internasional. Sisi keagamaan masyarakat Bugis banyak diung kap di dalam Sure’ Lagaligo.

Menurut Prof Andi Zainal Abidin, tokoh Lagaligo sezaman dengan Nabi Muhammad SAW. Jika hal ini benar, ber arti usia karya Lagaligo sudah le bih dari 14 abad.

Baca juga : Hindu Tamil Di Medan

Nama Makassar juga sangat erat hubungannya dengan Islam. Sebelum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tiba di daerah Bugis, konsep ajaran itu sudah familiar bagi masyarakat Bugis-Makasaar.

Makassar menurut Prof Andi Zainal Abidin berasal dari kata Mangkasara (tampak). Nama itu dipopulerkan oleh Sultan Alaud din, raja pertama yang masuk Islam, ketika ia menyaksikan keha diran Nabi Muhammad SAW tam pak (mang kassara) gambarnya di kuku raja.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Kamis, 9 Januari 2025 dengan judul "Beragama Dalam Keberagaman (55), Kepercayaan Dewata Sewwae Bugis-Makassar (Bagian 2)"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.