Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika pasukan Abrahah atau biasa disebut Pasukan Bergajah yang diabadikan dalam QS Al-Fil (105) bermaksud mengambil alih Ka’bah di Makkah, namun yang terjadi mereka dihancurkan dengan azab yang mengerikan.
Seluruh tentara dan gajah yang ditumpanginya hancur melalui serangan burung atau serangga Ababil, sebagaimana dilukiskan di dalam Al-Qur'an.
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)” (QS Al-Fil ayat 1-5).
Baca juga : Epidemi dalam Kisah Talut Dan Jalut
Menurut seorang ahli medico-historico, Dr Kurtz Sprenger, musnahnya pasukan Abrahah karena epidemi cacar yang sangat dahsyat. Alasannya, epidemi sejenis ini mula-mula menjangkit di Jazirah Arab bersamaan dengan peristiwa hancurnya pasukan Abrahah, yaitu sekitar tahun 558 M. Pendapat ini dikuatkan oleh Sir William Muir.
Ibnu Katsir jauh sebelumnya juga telah mengemukakan riwayat bahwa pada tahun gajah itu mulai menjangkit suatu penyakit sejenis campak atau sejenis cacar.
Para ahli banyak tertarik menganalisa ayat demi ayat pada surat al-Fill, khususnya pada tiga ayat terakhir, karena mereka menilai tersirat sebuah isyarat ilmiah yang cukup penting. Kata thairan ababil banyak diterjemahkan oleh para mufassir dengan “binatang yang berbondong-bondong”.
Baca juga : Epidemi Typhus Exanthematicus
Hanya Muhammad Abduh yang menolak mengartikan al-thair dengan “burung”. Ia mengartikannya dengan sejenis serangga atau dewasa ini sering disebut dengan virus. Virus atau mikroba inilah disebarkan melalui angin yang memusnahkan seluruh pasukan gajah Abrahah.
Apabila zat tersebut menyentuh anggota badan manusia maka langsung mengakibatkan luka-luka yang pada akhirnya menyebabkan hancurnya seluruh badan, yang mengingatkan kita kepada virus anthrax.
Segolongan ahli mengartikan sijjil dengan “tanah yang terbakar”, “batu yang dipahat”.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.