Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (16)
Belajar Dari Kajian Prof L.W.H Hull (Bagian 2)
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam periode ini (abad VI-XIII M), banyak sekali prestasi kemanusiaan yang dapat dicatat. Antara lain lahirnya tokoh-tokoh agama seperti empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’ dan Ahmad Ibn Hambal). Juga tokoh-tokoh sains dan filsafat ala Yunani bangkit kembali pemikirannya. Sehingga masa-masa ini disebut periode filsafat Yunani II.
Sayang sekali, masa kejayaan Islam selama enam abad tidak bisa berlangsung lebih lama karena pusat-pusat kerajaan Islam terlalu jauh meninggalkan ruhul Islam. Perpecahan dan bahkan perang saudara terjadi antara dinasti-dinasti Islam. Selain itu, juga mulai terjadi dekadensi moral di dalam masyarakat. Perintah dan larangan ajaran Islam banyak dilanggar. Tidak ada kekuatan dan otoritas untuk menegakkan kembali ajaran luhur itu karena figur kalangan atas tidak memberi contoh yang baik.
Baca juga : Belajar Dari Kajian Prof LWH Hull (Bagian 1)
Yang terjadi pada masa jahiliyah kembali diadopsi anggota keluarga raja dan kalangan elite bangsa Arab. Misalnya tradisi harem (gundik-gundik keluarga raja) yang sudah pernah tidak kedengaran, pada masa awal Islam kembali marak lagi.
Malah, menurut Fatimah Mernissi, seorang pakar women studies, di antara seluruh raja yang pernah berdaulat di dinasti Bani Abbasiyah, hanya dua orang yang lahir dari permaisuri sah. Selebihnya berasal dari istri selir raja. Hal lain yang perlu dicatat ialah merosotnya aktivitas ilmu pengetahuan.
Baca juga : Menegakkan Sikap Keterbukaan Akademik
Pemikiran mu’tazilah yang menjunjung tinggi pikiran dan logika seolah-olah dipandang sebagai aliran sesat. Akibatnya aktivitas pemikiran dan ilmu pengetahuan mandeg. Kebetulan setelah pemikiran mu’tazilah menurun digantikan oleh aktivitas tasawuf, yang lebih menekankan aspek rasa dan spiritualitas. Khurafat, bid’ah, pemikiran mistik dan spekulatif berkembang cepat dalam dunia Islam. Pandangan dunia (Islamic world view) berbalik dengan periode-periode sebelumnya. Periode ini betul-betul memalukan bagi dunia Islam.
Teori politik Ibnu Khaldun membagi sejarah kerajaan menjadi empat periode. Yakni periode perintis, periode pembangun, periode penikmat, dan periode penghancur. Periode penghancur ini terjadi di dalam abad XIII. Cepat atau lambatnya siklus Ibnu Khaldun ini tergantung konsisten atau tidaknya para pelaku politik di dalam memerankan peran politiknya.
Baca juga : Menegakkan Kejujuran Akademik
Al-Qur’an sendiri meniscayakan perubahan itu, sebagaimana diisyaratkan dalam QS Ali ‘Imran/3:140: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa yang punya ajal itu bukan hanya manusia sebagai perorangan, tetapi suatu masyarakat juga. Likulli ummatin ‘ajal (setiap suatu komunitas itu mempunyai ajal). Dan dalam ayat lain juga dikatakan, “apa bila ajal tiba tidak akan ditunda atau dipercepat”.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.