Dark/Light Mode

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (35)

Karya Peradaban Islam: Observatorium

Rabu, 17 September 2025 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu karya ilmuwan Muslim terbesar ialah observatorium, suatu teknologi praktis untuk mengamati fenomena alam. Temuan ini bersambungan waktunya dengan pasca kehancuran Bagdad oleh pasukan Hulagu Khan.

Salah seorang tokoh sekaligus penemu observatorium ialah Nasiruddin Al-Thusi. Ketika Hulagu Khan dan pasukannya mengobrak-abrik kota ilmu pengetahuan Bagdad, ia berusaha melobi jajaran pimpinan pasukan Hulagu agar karya-karya ilmu pengetahuan yang amat bermanfaat untuk kemanusiaan tidak dihancurkan.

Nasiruddin bersedia membantu jika sekiranya Hulagu mau memanfaatkan jasanya sebagai ahli astronomi dan sekaligus astrologi. Ia juga menyampaikan kesediaannya untuk merawat sekaligus mengembangkan sejumlah laboratorium keilmuan yang sudah mengukir sejarah kemanusiaan.

Baca juga : Karya Peradaban Islam: Optik

Akhirnya, pasukan Hulagu menerima tawaran Nasiruddin. Pasukan Hulagu bahkan memberikan dorongan dan dana kepada Nasiruddin melakukan penelitian lebih lanjut.

Kesempatan yang ada ini tidak disia-siakan oleh Nasiruddin. Ia mendekati Hulagu agar mendirikan observatorium dan lembaga sains di Malaga, Persia. Hulagu setuju dan Nasiruddin diminta sebagai direkturnya.

Ia diberi kepercayaan untuk merekrut para ilmuwan yang ahli dalam bidangnya. Ia berhasil membujuk Qutbuddin Syirazi (1311), Ibn Syathir, dan Muhiddin Al-Magribi. Nasiruddin berhasil menyelamatkan sekitar 40.000 buku sains karya para ilmuwan Muslim di dalam periode sebelumnya. Observatorium Maragah terus berkembang di bawah kepemimpinan Nasiruddin.

Baca juga : Karya Peradaban Islam: Penemuan Aljabar

Ia mengembangkan laboratorium yang mengesankan penguasa dari Mongol, hingga pada akhirnya cucu Hulagu Khan, Ulugh Beg masuk Islam.

Dengan dukungan penuh raja, maka Nasiruddin membangun sejumlah observatorium canggih di berbagai kota. Nasiruddin bukan hanya mengembangkan observatorium, tetapi juga mengembangkan disiplin ilmu lain, seperti etika, teologi, dan filsafat. Ia menghidupkan kembali filsafat, khususnya pemikiran Ibn Sina.

Tidak heran kalau Nasiruddin juga banyak menulis persoalan-persoalan kontemporer keagamaan seperti ilmu fikih dan tasawuf. Ia juga akrab dengan karya-karya Imam Gazali. Karyanya yang amat gemilang ialah Tajrid al-I'tiqad (Penyucian Keyakinan). Begitu dalam dan luasnya ilmu Nasiruddin sehingga ia dijuluki Ibn Sina kedua.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.