Dark/Light Mode
Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sebelumnya
Aksi nirempati yang berfokus pada pencitraan diri tersebut secara nyata melukai korban bencana. Ketika perhatian dan sumber daya dialihkan untuk mengatur angle kamera atau kunjungan yang bersifat seremonial, waktu respons terhadap korban yang terisolasi atau membutuhkan pertolongan medis darurat bisa terbuang.
Korban, yang sedang berada dalam puncak penderitaan, justru menjadi "latar belakang" atau properti dalam drama pencitraan seseorang. Rasa sakit dan keputusasaan mereka terabaikan, sementara pesan yang sampai kepada publik adalah heroisme individual, bukan solidaritas kolektif. Hal ini memperdalam trauma dengan membuat mereka merasa dijadikan objek eksploitasi, bukan subjek yang dipulihkan martabatnya.
Baca juga : Demokrasi Di Atas Awan
Lebih luas lagi, praktik seperti ini merusak kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap sistem penanggulangan bencana. Ketika publik menyaksikan bagaimana drama pencitraan mengalahkan substansi bantuan, timbul sinisme dan kekecewaan mendalam. Masyarakat mulai mempertanyakan integritas setiap aksi bantuan, yang dapat meredam gelombang solidaritas dan donasi spontan dari masyarakat. Kepercayaan yang terkikis ini berdampak jangka panjang, menyulitkan koordinasi dan partisipasi publik dalam bencana-bencana mendatang. Bangsa ini menjadi terluka karena melihat nilai-nilai gotong royong dan ketulusan membantu sesama dikhianati demi ambisi pribadi yang sempit.
Oleh karena itu, profesionalisme sejati dalam menanggulangi bencana harus didefinisikan ulang sebagai kemampuan bekerja secara efektif di balik layar, memastikan setiap mata rantai dalam bantuan berfungsi optimal tanpa perlu sorotan. Pahlawan sesungguhnya adalah tim medis yang tak henti merawat korban di tenda darurat, logistik yang memastikan distribusi air bersih tepat waktu, atau para pekerja yang membuka akses jalan terpencil. Kesuksesan harus diukur dari indikator nyata: jumlah korban yang dievakuasi, kecepatan distribusi logistik, dan penurunan angka kematian, bukan dari frekuensi kemunculan di berita televisi.
Hendaknya para pihak yang masih gandrung kamera dan kegiatan seremonial minim pemaknaan, mulai banyak menderas aneka kebijaksanaan kuno Nusantara, termasuk ajaran topo ngrame dalam falsafah Jawa. Topo ngrame adalah sebuah konsep falsafah hidup Jawa yang mendalam, menggabungkan dua kata kunci: topo (bertapa, laku prihatin, atau menjalani tirakat) dan ngrame (ramai, hiruk-pikuk, atau keramaian).
Secara harfiah, frasa ini dapat dimaknai sebagai "bertapa di tengah keramaian". Namun, maknanya jauh lebih substantif daripada sekadar berada di lokasi yang ramai. Ini adalah sebuah laku batin dan spiritual yang mengajarkan ketahanan, kesadaran penuh, dan kemurnian niat. Seseorang yang menjalani topo ngrame ditantang untuk tetap menjaga ketenangan, kejernihan hati, dan integritas dirinya justru ketika berada dalam situasi yang penuh godaan, sorotan, pujian, atau kesibukan duniawi. Ia harus mampu ngramèkaké atau menghayati dan mengelola keramaian tersebut tanpa terhanyut atau kehilangan jati dirinya.
Dengan demikian, esensi dari topo ngrame bukanlah mengasingkan diri dari dunia, tetapi justru aktif berkontribusi di dalam masyarakat dengan fondasi batin yang kuat dan terlatih. Filosofi ini menekankan pentingnya kerja yang tulus, pelayanan tanpa pamrih, dan sikap rendah hati meskipun memiliki kedudukan atau berada dalam pusat perhatian. Dalam konteks kepemimpinan dan pelayanan publik, topo ngrame menjadi antidot bagi penyakit pencitraan dan keinginan untuk selalu tampil sebagai pahlawan.
Seorang pemimpin atau aparat yang menjalankan nilai ini akan bekerja dengan senyap dan efektif di belakang layar, memastikan tugasnya tuntas, tanpa perlu menjadikan setiap aksinya sebagai tontonan atau alat peningkatan popularitas diri. Inilah bentuk penguasaan diri tertinggi: mampu memberikan yang terbaik bagi orang banyak, sementara hati tetap terpelihara dari keramaian nafsu akan pujian dan pengakuan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.