Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu diceritakan bahwa karena rasa tinggi hati (al-‘uluw), malaikat melakukan penyimpangan (korupsi kodrati) yang mengakibatkannya jatuh dari ‘Arasy ke Baitul Ma’mur. Karena rasa takabur (istikbar), iblis melakukan pembangkangan (korupsi status) sehingga terkutuk seumur hidup dan jatuh dari surga ke neraka. Karena jiwa yang rakus (tamak), Adam dan Hawa melakukan pelanggaran (korupsi materi) yang mengakibatkan mereka jatuh dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan.
Kini giliran keturunan Adam dan Hawa, yakni Qabil. Dengan dorongan nafsu syahwat (al-quwwah al-syahwatiyyah) dan nafsu amarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah), ia melanggar rambu-rambu hukum (the real corruption), yang berakibat pada sanksi sosial serta ancaman api neraka.
Baca juga : Jejak Awal Korupsi: Ketamakan
Kisah ini bermula ketika Adam dan Hawa harus menjalani kehidupan di bumi serta beranak-pinak dengan segala aturan dan ketentuan yang berlaku. Mereka dikaruniai beberapa anak kembar laki-laki dan perempuan. Persoalan sosial mulai muncul ketika Qabil, sebagai putra sulung Adam, menolak kawin silang, yaitu mengawini saudara kembar perempuan Habil, adiknya, dengan alasan saudara kembar Habil tidak cantik. Qabil justru ingin mengawini saudara kembar perempuannya sendiri yang dianggap lebih cantik.
Selain itu, Qabil juga melakukan penyimpangan dalam ibadah kurban. Ia seharusnya mempersembahkan kurban dari hasil pangan yang berkualitas baik, namun yang dipersembahkannya justru pangan berkualitas buruk. Inilah sesungguhnya sejarah awal the real corruption dalam perjalanan kemanusiaan. Tidak berhenti sampai di situ, Qabil bahkan membunuh adik kandungnya sendiri karena didorong oleh amarah dan kecemburuan terhadap Habil, sosok yang merepresentasikan prototipe manusia ideal.
Baca juga : Jejak Awal Korupsi: Keangkuhan
Qabil menjadi simbol manusia tercela, sedangkan Habil melambangkan manusia ideal, sebagaimana digambarkan dalam Q.S. al-MÄidah [5]: 27–31. Akibat kesalahan fatal yang dilakukan Qabil, setiap dosa serupa yang diulangi oleh anak cucu Adam akan turut membebani Qabil dengan sebagian dosa tersebut. Hal ini ditegaskan dalam hadis:
“Tidaklah suatu jiwa terbunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama itu mendapatkan bagian dari dosa penumpahan darah tersebut, karena dialah yang pertama kali membuka jalan penumpahan darah.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.