Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
Sebelumnya
Hujan yang tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS Al-An'am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka. Banjir memusnahkan areal kehidupan manusia (QS Al-Baqarah/2:59). Gunung-gunung yang tadinya berfungsi sebagai pasak bumi (QS Ar-Rum/30:7), tiba-tiba memuntahkan lahar panas dan gas beracun (QS Al-Mursalat/77:10). Angin yang tadinya berperan dalam proses penyerbukan tumbuhan (QS Al-Kahfi/18:45) dan mendistribusikan awan (QS Al-Baqarah/2:164), tiba-tiba tampil ganas meluluhlantakkan segala sesuatu yang dilewatinya (QS Fussilat/41:16).
Laut yang tadinya jinak melayani mobilitas manusia (QS Al-Hajj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja di hadapannya (QS At-Takwir/81:6). Malam yang tadinya membawa kesejukan dan ketenangan (QS An-Naml/27:86), tiba-tiba menampilkan ketakutan yang mencekam dan mematikan (QS Hud/11:81). Siang yang tadinya menjadi waktu yang menjanjikan (QS Al-Muzzammil/73:7), berubah menjadi hari-hari yang menyesakkan dan menyedot energi positif (QS Al-Ahqaf/46:35).
Baca juga : Pembuktian Terbalik ala Nabi Yusuf
Kilat dan guntur (listrik alam) yang tadinya menjalankan fungsi positif dalam proses nitrifikasi bagi kehidupan makhluk biologis (QS Ar-Ra'd/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya—menetaskan larva hama yang memusnahkan tanaman petani (QS Ar-Ra'd/13:12).
Keanekaragaman flora dan fauna yang tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum ekosistem (QS Ar-Ra'd/13:4), tiba-tiba berkembang menyalahi deret ukur kebutuhan manusia, sehingga sulit memenuhi komposisi karbohidrat dan protein secara seimbang (QS Al-A’raf/7:132).
Baca juga : Pemberantasan Korupsi Ala Nabi Syu’aib
Ini semua menjadi isyarat bahwa taskhir (penundukan alam) tidak sepantasnya membuat manusia menjadi angkuh. Dari keterangan ayat-ayat di atas, dapat dipahami bahwa penyimpangan yang dilakukan manusia—khususnya praktik KKN—tidak hanya mencelakakan diri mereka sendiri, tetapi berdampak jauh pada stabilitas dan ketundukan makrokosmos. Ternyata, alam raya pun murka atas praktik penyimpangan yang dilakukan oleh manusia.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 12 Januari 2026 dengan judul "Sosiologi Korupsi (8) Jika Hak Alam Dikorupsi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.