Dark/Light Mode

Dengue Di ASEAN Dan Indonesia

Jumat, 13 Februari 2026 08:40 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

 Sebelumnya 
Artikel tersebut mencatat angka kematian (case fatality rate/CFR) dengue di dunia sebesar 0,07 persen.

Sementara itu, berdasarkan berita RM.id, pada 2024 Indonesia mencatat 257.271 kasus dengue dengan lebih dari 1.400 kematian.Pada 2025 tercatat 161.752 kasus dengan 673 kematian.

Artinya, angka kematian (CFR) pada 2024 sekitar 0,5 persen dan pada 2025 sekitar 0,42 persen.

Memang terdapat penurunan pada 2025 dibanding 2024. Namun, angka ini masih jauh lebih tinggi dibanding CFR dengue global yang sebesar 0,07 persen.

Baca juga : 4 Penyakit Infeksi Paru Berat

Tingginya angka kematian dengue di Indonesia sejalan dengan catatan Kemenkes RI bahwa Indonesia menyumbang sekitar 66 persen dari total kematian akibat dengue di Asia dan menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan.

Artinya, masih diperlukan kerja keras untuk menurunkan angka kematian akibat dengue, terlebih jika ingin mencapai target Zero Dengue Deaths pada 2030.

Di tingkat ASEAN juga terdapat upaya kuat menuju penurunan kematian, sesuai tema Hari Dengue ASEAN 2025: “ASEAN United: Zero Dengue Deaths, a Future We Build Together.

Secara umum, setidaknya ada sembilan langkah penting dalam pengendalian dengue di dunia, di ASEAN, maupun di Indonesia.

Baca juga : Data Terbaru: Satu Orang Meninggal Akibat Virus Nipah

Pertama, pengendalian vektor (nyamuk), termasuk melalui gerakan 3M Plus yang dilakukan secara konsisten dengan dukungan pengelola kesehatan dan partisipasi aktif masyarakat.

Kedua, surveilans yang baik agar pola epidemiologis dapat dipantau dan tindakan cepat dilakukan bila terjadi peningkatan kasus. Program juga perlu disesuaikan dengan fluktuasi perubahan iklim.

Ketiga, deteksi dini kasus, termasuk menjamin ketersediaan alat diagnostik seperti rapid diagnostic test (RDT). Keempat, sistem rujukan yang baik agar pasien memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan. Kelima, pelayanan optimal di rumah sakit untuk kasus berat.

Keenam, perluasan cakupan dan peningkatan mutu vaksinasi. Ketujuh, penggunaan pendekatan inovatif seperti nyamuk Wolbachia dan metode lainnya. Kedelapan, respons cepat dalam penanganan wabah agar segera terkendali dan tidak meluas. Kesembilan, komitmen politik yang kuat untuk pengendalian dengue.

Baca juga : Nipah Pada Kelelawar Di Indonesia

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit
- Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.