Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Seperti diketahui bahwa walaupun secara resmi kini ada 51 kasus terkonfirmasi Ebola akibat virus Bundibugyo di dua negara Afrika, tetapi selain itu sudah ada pula 600 kasus suspek dan 139 kematian yang juga berstatus suspek. WHO juga menyatakan bahwa jumlah kasus nampaknya akan terus bertambah.
Untuk mengantisipasinya maka pada 18 Mei 2026 ini otoritas kesehatan Amerika Serikat, “Centers for Disease Control and Prevention (CDC)” bersama dengan “Department of Homeland Security (DHS)” bersama unit terkait melakukan kegiatan proaktif untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga Amerika terhadap kemungkinan Ebola.
Disebutkan bahwa CDC mengimplementasikan kegiatan kesehatan masyarakat untuk mengurangi risiko penyakit Ebola akibat virus Bundibugyo, dengan mencegah masuknya penyakit ke Amerika Serikat, setidaknya dengan empat kebijakan penting.
Baca juga : Pemkab Serang Naikkan Insentif untuk Guru Ngaji dan Madrasah
Pertama, memperkuat skrining dan monitoring terhadap mereka yang datang dari daerah terjangkit Ebola sekarang ini.
Kedua, membatasi (“entry restriction”) masuknya mereka yang bukan pemegang paspor Amerika, bila mereka ada di Uganda, Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan dalam 2 1 hari terakhir. Ini merupakan tindakan yang cukup kuat yang akhirnya Amerika berlakukan.
Ketiga, akan berkoordinasi dengan maskapai penerbangan, mitra internasional dan petugas pintu masuk negara untuk mengidentifikasi dan menangani pengunjung yang mungkin terpapar oleh virus Ebola.
Baca juga : APHI Gandeng Verra Perkuat Perdagangan Karbon Hutan
Keempat, memperkuat aktifitas respon proteksi di pelabuhan/bandara pintu masuk negara, juga meningkatan penelusuran kontak, kapasitas testing laboratorium dan kesiapa rumah sakit di Amerika Serikat.
Untuk tahap pertama ini kebijakan di atas akan berlaku selama 30 hari dulu, sejak 18 Mei 2026. Disebutkan ada tiga alasan mendasar kenapa kebijakan perlindungan ketat ini di lakukan Amerika Serikat. Pertama dengan mengikuti perkembangan epidemiologi yang ada, kedua hasil penilaian risiko (“risk assessments”) mereka, dan ke tiga karena memang seriusnya penyakit Ebola ini.
Berbagai keputusan yang dilaksanakan Amerika Serikat ini tentu dapat saja menjadi salah satu pertimbangan untuk dilakukan di negara kita, untuk melindungi warga kita.
Baca juga : Inter Gagal Menang di Kandang, Verona Curi Poin
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSIAdjunct Professor Griffith University Australia.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes.
Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat.
Penerima Rekor MURI April 2024.
Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024-PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya