Dark/Light Mode

Menyikapi Era Multiple Shock (2)

Kamis, 25 Juni 2020 07:53 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Namun orang ini masih fluktuatif, tergantung mood-nya. Sedangkan “maqam” adalah kondisi batin permanen dialami seseorang karena sudah melalui proses pencarian panjang serta riyadhah dan mujahadah yang konsisten.

Suasana batin yang dialaminya bukan karena dipicu oleh peristiwa-peristiwa khusus melainkan sudah melalui spiritual training yang amat panjang. Namun tidak mustahil hal bisa menjadi permanen manakala orang itu memahami kiatkiat khusus. Peranan syekh, mursyid, atau pembimb ing spiritual memang diperlukan dalam hal meningkatkan hal menjadi “maqam”.

Baca juga : Menyikapi Era Multiple Shock (1)

Di sinilah tarekat berperan untuk mengorganisir jamaah untuk melakukan mujahadah dan riyadhah secara sistematis. Sistem tarekat setiap tarekat bervaria si. Tergantung sang pendiri tarekatnya. Syekh, mursyid, dan tarekat memang besar manfaatnya bagi orang yang akan dengan serius menekuni dunia suluk.

Salik modern tidak mesti harus melaku kan perubahan drastis dari berbagai aspek kehidupan. Seorang salik tidak tepat men dramatisir diri sebagai orang yang sangat spesifik, apalagi mengklaim diri sebagai kelompok ”manusia suci”.

Baca juga : Saatnya Kita Lebih Dekat Kepada Tuhan (2)

Sufi atau salik yang sejati ialah mereka yang mampu menyembuyikan diri dan kondisi batin yang dialaminya di depan orang lain. Jika ada salik yang suka memamerkan kesalikannya maka sesungguhnya belumlah ia seorang salik sejati. Salik sejati memilih untuk tidak populer di bumi untuk populer di langit (majhul fil ardh ma’lum fis sama’).

Di atas langit masih banyak langit. Seorang salik tidak bisa angkuh dan men ganggap orang lain rendah dan kotor, atau menganggap salik selainnya keliru. Dalam Q.S. Al-Kahfi, Tuhan menegur Nabi Musa, sang manusia populer, dan mengunggulkan Khidhir, sang manusia biasa-biasa.

Baca juga : Saatnya Kita Lebih Dekat Kepada Tuhan (1)

Oleh karena itu, kita pun harus hati-hati membaca orang, sebab Tuhan Maha Pintar menyembuyikan kekasihNya di dalam berbagai topeng penampilan. Hati-hati! Orang yang suka menyalahkan orang lain pertanda masih harus belajar. Kalau sudah menyalahkan dirinya sendiri berarti sudah sedang belajar. Kalau sudah tidak lagi pernah menyalahkan orang lain berati sudah selesai belajar, karena sudah ’arif. Allahu a’lam. ***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.