Dark/Light Mode

Tantangan Covid Dan Korupsi

Selasa, 8 Desember 2020 04:35 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak akan digelar dua hari lagi. Pilkada tahun ini menjadi ajang pembuktian janji-janji penyelenggara pemilu untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar tidak menciptakan klaster-klaster baru di daerah. Di sisi lain pemilihan kepala daerah harus dijadikan momentum untuk mencari pemimpin bersih dan amanah. Pemimpin yang tahan terhadap godaan korupsi. Dua menteri dari partai yang berbeda ditangkap KPK karena melakukan korupsi. Yang satu menilep dana bantuan sosial dan satunya lagi memainkan kuota ekspor baby lobster.

“Perilaku kagetan dan gumunan, Mo. Seorang menteri tanpa rasa malu berani nilep uang rakyat,” celetuk Petruk geram. Romo Semar mesem tidak mau komentar dengan pernyataan Petruk. Semar khawatir dengan pesta demokrasi yang digelar secara serentak di berbagai daerah. Dari awal pelaksanaan pilkada sudah memancing pro dan kontra. Bagi yang setuju diadakan pilkada karena untuk melindungi hak konstitusi rakyat. Sedangkan bagi yang menentang karena kesehatan rakyat lebih penting dibanding pilkada. Kopi pahit dan pisang rebus menemani pagi yang dingin karena diguyur hujan semalam. Kepulan asap rokok tingwe membawa lamunan Romo Semar ke zaman pengukuhan Prabu Anom Gatotkaca sebagai raja di Pringgondani.

Baca juga : Kebohongan Demokrasi

Kocap kacarito, pasca-gugurnya Prabu Tremboko oleh Prabu Pandu Dewanata dalam perang pamuksa, Arimba menjadi raja di kerajaan Pringgondani. Prabu Arimba menaruh dendam kesumat kepada keturunan Pandu yakni para Pandawa karena telah membunuh bapaknya. Di lain pihak Dewi Arimbi adik Prabu Arimba justru jatuh hati kepada Bima atau Werkudara. Saat terjadi perang tanding antara Prabu Arimba dengan Bima, Dewi Arimbi memberi tahu kelemahan Arimba. Maka dalam perang tersebut Prabu Arimba gugur di tangan Bima. Kerajaan Pringgondani jatuh dan diberikan kepada Bima. Namun Bima menolak secara halus kerajaan Pringgondani. Bima justru memberikan tahta Pringgondani kepada Gatotkaca. Gatotkaca merupakan anak Bima hasil perkawinannya dengan Dewi Arimbi. Secara silsilah kerajaan Gatotkaca lebih pas sebagai penerus kerajaan Pringgondani.

Kedua adik laki-laki Dewi Arimbi yakni Brajadenta dan Brajamusti tidak setuju dengan penobatan Gatotkaca sebagai raja Pringgondani. Menurutnya Gatotkaca masih keturunan Pandu. Brajadenta dan Brajamusti memilih lari ke kerajaan Hastina dan minta bantuan kepada Prabu Duryudono. Duryudono menyanggupi untuk membantu Brajadenta dan Brajamusti menggulingkan Gatotkaca.

Baca juga : Revolusi Hijau Dan Akhlak

Prabu Duryudono mengirim pasukan ke Pringgondani untuk menggagalkan pelantikan Gatotkaca sebagai raja yang sah. Dalam perang tersebut pasukan Kurawa yang dipimpin Duryudono kocar-kacir melawan pasukan Pringgondani dan Pandawa. Brajadenta dan Brajamusti menyerang Gatotkaca secara bersamaan. Perang tanding ketiganya sama-sama sakti mandraguna. Melihat Gatotkaca kewalahan, Dewi Arimbi muncul ikut membantu menyadarkan kedua adiknya tersebut. Namun Brajadenta dan Brajamusti tidak bergeming. Akhirnya oleh Gatotkaca keduanya dibenturkan secara bersamaan dan keduanya tewas menyatu ke dalam tubuh Gatotkaca.

“Pilkada jangan sampai disusupi kepentingan jangka pendek, Mo, seperti kejadian di Pringgondani,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul Tole. Pilkada tahun ini sangat strategis bagi partai politik karena sebagai pemanasan pilpres tahun 2024 mendatang. Selain itu Pilkada harus dijadikan sarana untuk membuktikan kita matang dalam berdemokrasi. Yang menang jangan umuk yang kalah jangan ngamuk.” Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.