Dark/Light Mode

Perilaku ``Nggege Mongso`` 

Senin, 7 Juni 2021 06:05 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Covid-19 mengajarkan banyak hal kepada kita termasuk tetap semangat, ulet, dan kreatif dalam menghadapi keterpurukan. Selain itu virus Corona juga mengingatkan untuk senantiasa berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu kita selama pandemi. Penyekatan dan karantina yang selama ini membuat kita merasa terjebak dalam ruangan sempit ternyata memberi hikmah bagaimana kita harus menghadapi kehidupan selanjutnya.

“Covid juga mengubah perilaku para elite politik kita, Mo,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar tahu ke mana arah pembicaraan anaknya Petruk. Sebetulnya Romo Semar enggan komentar bagaimana para elite tidak sabaran nggege mongso mematut diri berebut wahyu ratu. Selain waktunya masih jauh, tidaklah elok di saat bangsa ini sedang berjibaku menangani pandemi malah sibuk menawarkan diri ke mana-mana. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah di depan mata. Perusahaan banyak mengalami kebangkrutan. Investor global di sektor energi hengkang menambah ketidakpastian iklim investasi.

Berita Terkait : Durna Dan Falsafah Ember

Kopi pahit dan ubi rebus dibiarkan dingin. Romo Semar sekali kali membiarkan kepulan asap rokok tingwe bermain dengan ingatan masa lalunya. Romo Semar jadi ingat wejangan Bethara Narada kepada Bambang Palasara tentang bagaimana perilaku seorang satria untuk mendapatkan wahyu ratu.

Kocap kacarito, Bambang Palasara berhasil menyembuhkan penyakit Durgandini atau Dewi Setyawati dari kerajaan Wiratha. Dewi Durgandini sembuh total dari bau amis yang dideritanya sejak kecil. Atas kesabaran Palasara, penyakit aneh tersebut lenyap tanpa bekas. Pandangan mata Palasara membuat Durgandini jatuh hati. Brahmana muda dari Pertapaan Sapta Arga selain tampan juga modis. Rambut Palasara ikal dan hitam dibiarkan terurai membuat hati Dewi Durgandini luluh di pelukan cucu Manumayasa tersebut.

Berita Terkait : Ngayom Dan Ngayomi

Hubungan cinta keduanya belum dapat restu dari Prabu Basuketi ayahnda Durgandini. Walaupun hubungan gelap tersebut telah melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Abiyasa, Prabu Basuketi sebagai seorang raja agung Wiratha lebih memilih Prabu Sentanu dari kerajaan Hastina sebagai pendamping hidup Dewi Durgandini. Rupanya Sentanu sudah tahu hubungan gelap antara Palasara dan Dewi Durgandini. Maka dibuatlah sayembara tanding, jika Palasara bisa mengalahkan Sentanu, Durgandini akan diberikan kepada Palasara.

Terjadilah perang tanding antara Sentanu dan Palasara. Keduanya sama-sama sakti dan tidak ada yang terkalahkan. Bethara Narada turun ke bumi untuk mendamaikan keduanya. Narada minta keduanya berhenti berperang untuk memperebutkan seorang putri. Narada minta Palasara legowo untuk memberikan Dewi Durgandini kepada Sentanu. Narada berpesan atas keluhuran budi Palasara, kelak keturunan Palasara akan mendapatkan wahyu ratu yang menurunkan raja di Hastina.

Berita Terkait : Hakikat Lebaran Bagi Bima

“Wahyu Ratu mirip dengan wanita ayu, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Wahyu ratu ibarat seorang wanita  kemayu dikejar mlayu, ditinggal melu,” jawab Romo Semar sambil mesem. Hanya satria yang mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya kuat mendapatkan wahyu ratu sejati. Selain itu wahyu ratu akan mencari satria yang suka menolong sesama. Satria bekerja dengan tulus rame ing gawe sepi ing pamrih. Bukan bekerja karena pamrih untuk mengejar liputan media sosial. Sebaliknya satria nggege mongso akan dijauhi wahyu ratu. Karena mendahului kehendak sang Khalik dan cenderung berperilaku curang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan posisi ratu tersebut. Oye