Dark/Light Mode

Tirakat Cegah Pagebluk

Senin, 23 Agustus 2021 06:00 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengingatkan pemerintah Indonesia agar  tetap waspada menghadapi perkembangan Covid-19. Protokol kesehatan harus tetap diterapkan untuk mencegah pembatasan sosial. Pencabutan aturan pembatasan sosial akan menyebabkan leluasanya mobilitas masyarakat. Belajar dari kasus yang terjadi di Amerika Serikat pekan lalu. Amerika mengalami lonjakan kasus serius pasca pelonggaran protokol kesehatan.

“Kita masih harus melakukan tirakat nasional, Mo,” celetuk Petruk sekenanya.  Romo Semar mesem dan mengamini dengan apa yang dikatakan anaknya, Petruk. Bagi Semar yang namanya tirakat ibaratnya melakukan tapa brata mencegah hawa nafsu kita sendiri. Termasuk membatasi nafsu untuk melakukan kegiatan dan mobilitas serta patuh kepada protokol kesehatan.

Berita Terkait : Keserakahan Prabu Boko

Seperti biasa, kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Ngopi pagi sambil mengikuti berita geopolitik yang terjadi di Afghanistan menarik untuk dicermati. Jangan sampai dampak kembalinya Taliban menjadi pemicu konflik regional maupun global. Pemerintah Tiongkok sudah merapat untuk membantu pemerintah Afghanistan di bawah kendali Taliban. Kepulan asap rokok kelobot membawa angan-angan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Di mana virus Kertiwindu menyerang Hastina.

Kocap kacarito, Pandawa memenangkan perang Baratayuda melawan Kurawa. Kekalahan Kurawa ditandai dengan tewasnya Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni secara bersamaan. Duryudana tewas setelah bersembunyi di dalam air telaga. Bagi Bima tidak susah untuk menemukan persembunyian Duryudana. Sedangkan Patih Sengkuni tewas mengenaskan setelah kulitnya dibeset oleh Bima dengan Kuku Pancanaka. Konon, kulit Sengkuni tidak mampan oleh senjata tajam. 

Berita Terkait : Merdeka Dari Pagebluk

Setelah memenangkan pertempuran, Pandawa melakukan boyongan memasuki Istana Hastina. Secara aklamasi, estafet kepemimpinan Hastina diberikan kepada Parikesit. Parikesit merupakan anak Abimanyu, cucu dari Arjuna. Parikesit diangkat menjadi ratu karena memegang wahyu ratu Cakraningrat.

Di awal pemerintahan, Parikesit banyak terjadi bencana dan pagebluk. Keadaan Hastina semakin tidak menentu dengan banyaknya persoalan politik adu domba yang dilancarkan Kertiwindu. Like father, like son. Kertiwindu merupakan anak Sengkuni. Maka sebagai balas dendam terhadap keturunan Pandawa, Kertiwindu melakukan kekacauan di Hastina. Manuver perebutan kekuasaan dan adu domba terus dihembuskan kepada rakayat Hastina. Sehingga antar elite politik kerajaan saling curiga. Keadaan ini terus berlangsung dan merongrong pemerintahan Parikesit.

Berita Terkait : Meredam Kebangkitan Virus

Semar sebagai pamong para satria luhur selalu hadir untuk membentengi serangan musuh termasuk paham Kertiwindu. Gerakan Kertiwindu dilakukan secara sembunyi dan tidak diketahui secara vulgar. Paham Kertiwindu mirip dengan pagebluk yang menyerang rakyat secara masif. Berkat kewaspadaan Parikesit yang gesit melakukan tapa brata, kejahatan yang dilakukan Kertiwindu dapat dipadamkan. Kertiwindu tewas oleh anak buah Parikesit.

“Parikesit berhasil mengalahkan Kertiwindu karena dapat support dari rakyat, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Parikesit telah memberi contoh bagaimana tirakat untuk mengurus rakyat. Rakyat itu pada prinsipnya gampang dan mau diajak susah kalau pamongnya dapat dipercaya. Pamong yang bijak dapat merasakan penderitaan rakyat. Bukan sebaliknya, dalam keadaan susah pamong malah saling berebut kekuasaan dan proyek. Itu bukan tirakat namanya.” Oye