Dark/Light Mode

Bocornya Surat Prabu Pandu

Senin, 6 September 2021 06:17 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Data vaksin Pak Jokowi sempat beredar di sosial media minggu kemarin. Spekulasi pun berkembang mengenai lemahnya sistem manajemen keamanan data kita. Seperti biasa kegaduhan terjadi dan saling lempar tanggung jawab atas beredarnya data pribadi orang nomor satu di republik ini. Untuk pengamanan data penting diperlukan sistem keamanan atau firewall berlapis. Hal ini untuk mencegah terjadinya pencurian data oleh hacker atau orang yang tidak bertanggung jawab.

“Kalau dilihat modusnya bukan kerjaan hacker, Mo,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar sebetulnya kurang tertarik menanggapi kejahatan siber. Selain merasa gaptek, Romo Semar kurang mumpuni untuk komentar tentang informasi teknologi. Walaupun di era online seperti sekarang ini, peran budaya sangat diperlukan untuk meredam polarisasi perbedaan yang terjadi di sosial media. Seperti biasa Romo Semar ditemani kopi pahit dan pisang rebus untuk sarapan pagi. Kepulan asap rokok klobot membawa pikirannya ke zaman krisis politik kerajaan Hastina dan Prenggondani.

Berita Terkait : Suksesi Trah Pandawa 

Kocap kacarito, situasi kerajaan Hastina tidak menentu di tengah isu pergantian panglima perang dan posisi patih. Hubungan antara kerajaan Hastina dengan Pringgondani memburuk. Hal ini disebabkan sudah hampir setahun Prabu Tremboko, raja Pringgondani, tidak berkabar ke Prabu Pandu Dewanata. Sebagai sekutu Hastina, Prabu Tremboko berkewajiban lapor setiap tiga bulan sekaligus menghaturkan upeti.

Prabu Pandu masih bersabar atas perilaku mbalelo Tremboko. Pandu menulis surat ke Prenggondani menanyakan kenapa Tremboko tidak berkabar hampir satu tahun. Prabu Pandu mengutus Harya Suman atau Sengkuni untuk mengantarkan surat ke Prabu Tremboko. Sengkuni berangkat ke Prenggondani dengan membawa pasukan lengkap. Niat jahat Sengkuni muncul untuk mengetahui apa isi surat Pandu ke Tremboko.

Berita Terkait : Keserakahan Prabu Boko

Sengkuni mengubah isi surat Pandu ke Tremboko. Isi surat menanyakan kabar, diubah menjadi surat tantangan perang Hastina kepada Prenggondani. Sengkuni punya ambisi untuk menyingkirkan Prabu Pandu dari tampuk kekuasaan Hastina. Sengkuni dibantu oleh sahabatnya Arimba putra mahkota Pringgondani untuk merebut tahta Hastina. Dengan mengadu domba Prabu Pandu dan Tremboko, kekuatan Hastina menjadi lemah. Sehingga sangat mudah Sengkuni menyingkirkan Prabu Pandu.

Redaksi surat balasan Prabu Tremboko pun diubah menerima tantangan perang Prabu Pandu. Padahal sejatinya Prabu Tremboko tidak dapat sowan ke Hastina karena sedang repot atas kelahiran anak kembarnya yakni Brajadenta dan Brajamusti. Pandu sempat emosi saat menerima surat balasan dari Tremboko. Walaupun hati kecilnya tidak percaya atas isi surat tersebut. Namun takdir mengatakan lain. Kelak keduanya terpancing untuk melakukan perang tanding. Perang antara Pandu Dewanata dan Tremboko disebut perang Pamuksa. Kedua raja besar tersebut akhirnya gugur di medan laga.

Berita Terkait : Tirakat Cegah Pagebluk

“Kedua raja besar gugur korban kelicikan Sengkuni,” celetuk Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul Tole, ini merupakan peringatan agar seorang pemimpin jangan begitu saja percaya atas laporan anak buah. Sesuatunya harus dicek ulang,” papar Romo Semar. Sepertinya halnya beredarnya data penting Pak Jokowi. Itu bukan pekerjaan hacker. Seorang hacker merusak sistem dengan imbalan ekonomi atau tebusan. Ini merupakan oknum jahat yang sengaja membocorkan rahasia penting negara untuk agenda tertentu. Mirip apa yang dilakukan Sengkuni kepada Prabu Pandu dan Tremboko. Oye