Dewan Pers

Dark/Light Mode

Buat Konten Digital, Hindari Plagiarisme Ya!

Sabtu, 30 Juli 2022 16:13 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak orang yang belum menyadari tentang pentingnya hak cipta dan hak kekayaan intelektual (HKI). Karena itu, konten kreator hingga pelaku usaha kecil perlu mendaftarkan setiap karya, produk, serta merek yang dimiliki agar tidak diklaim pihak lain.

Dosen Magister Hukum Universitas Semarang Bambang Sadono mengatakan, masifnya penggunaan internet dan media sosial diikuti dengan antusias masyarakat yang gemar membuat konten.

"Maka dalam memproduksi konten harus akurat dan tidak cacat etika," ujarnya dalam diskusi bertema “Pahami Hak Cipta! Lindungi Karya dan Produk Digitalmu”, di Makassar, Sulawesi Selatan, dikutip Sabtu (30/7).

Artinya, jangan sampai konten itu bermuatan kabar bohong alias hoax, serta yang juga penting, hindari plagiarisme. Plagiarisme merupakan tindakan menjiplak ide, gagasan hingga karya orang lain lalu diakui sebagai karya sendiri.

"Hargai karya dan konten di dunia digital, stop plagiat konten. Konten apapun yang mau ditayangkan harus berasal dari sumber kredibel, dapat dipertanggungjawabkan dan didukung dengan referensi yang teruji," tegasnya.

Berita Terkait : Satgas PMK Daerah Diminta Genjot Vaksinasi Dosis Pertama

Soal pentingnya HKI, Bambang mengambil contoh kasus yang masih hangat, yaitu polemik pendaftaran merek "Citayam Fashion Week" ke Ditjen Kekayaan Intelektual (DJKI) yang dilakukan sejumlah pihak.

Salah satunya, artis Baim Wong. Padahal, istilah "Citayam Fashion Week" itu lahir secara organik dan belum teridentifikasi pencetusnya.

“Kadang kita tidak sadar untuk mendaftarkan produk atau merek. Padahal, kalau tidak cepat (mendaftar) dan tidak tahu, bisa jadi nanti merek produk kita didaftarkan dan diambil orang lain. Jadi, HKI ini penting, termasuk di dunia digital yang telah merambah semua bidang kehidupan kita,” tutur Bambang.

Sementara anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulawesi Selatan Wiwiek Dwi Endah menilai, media sosial tidak hanya merupakan ruang untuk berkomunikasi.

Tetapi juga telah menjadi ruang untuk berkarya, khususnya bagi para kreator konten, untuk mempublikasikan hasil karyanya.

Berita Terkait : Imbas Ketidakpastian Global, Beban Industri Pelayaran Makin Berat

Dia membeberkan cara beretika yang baik dalam menghargai karya dan konten orang lain di media sosial. Antara lain, dengan tidak menjiplak karya orang lain, meminta izin kepada pembuat karya jika ingin menggunakan karyanya, dan jangan menikmati karya bajakan.

“Berikan saran dan kritik yang membangun atas karya atau konten orang lain. Jika kita tidak menyukai karya tersebut, diam adalah pilihan tepat,” terangnya.

 

Di sisi lain, sambung Wiwiek, jika ingin mengunggah kembali atau re-post karya orang lain juga hendaknya jangan seenaknya saja.

Etika yang harus diperhatikan di antaranya, mencantumkan sumber, meminta izin kepada kreator, dan mengucapkan apresiasi langsung kepada kreator.

Dosen Bisnis dan Marketing UIN SATU Deny Yudiantoro menambahkan, dalam dunia bisnis, sebuah merek dapat melipatgandakan keuntungan dan meningkatkan penjualan.

Berita Terkait : HUT Ke-9, Ralali Komit Tingkatkan Digitalisasi Dan Franchise Solution

Untuk itu dikenal istilah merek dagang, yaitu lambang yang dipakai pedagang sebagai tanda pengenal untuk membedakan hasil produksi. Menurutnya, merek dagang penting karena merupakan alat komunikasi yang efektif dengan pelanggan.

"Merek dagang juga merupakan aset berharga dan menunjukkan keunikan suatu produk, serta memudahkan bisnis untuk berkembang. Berdasarkan undang-undang, merek dagang dapat memperoleh perlindungan hukum," tukasnya.

Dia pun menyarankan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk membuat merek dagang serta mendaftarkan merek dagang yang dimiliki ke DJKI. Biaya pendaftaran hak merek untuk UMKM juga relatif terjangkau, yaitu Rp 500 ribu.

Diskusi ini adalah bagian dari program Gerakan Nasional Literasi Digital. Acara tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. ■