Dark/Light Mode

Gelar Less Waste Wedding, Jadi Juara 2 Asia Pasific Youth SDGs Summit

Kamis, 29 Desember 2022 22:44 WIB
Eco-Wedding, Sustainable Wedding Planner with My wife on SEA Today News (2021)
Eco-Wedding, Sustainable Wedding Planner with My wife on SEA Today News (2021)

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang semakin menikmati konsep intimate wedding atau resepsi pernikahan yang digelar dengan jumlah tamu undangan yang terbatas. Semakin hari konsep pernikahan ini dibikin semakin personal. 

Bahkan belakangan para calon pengantin membuat intimate wedding semakin bermakna dengan mengusung tema pernikahan yang ramah lingkungan atau Less Waste Wedding seperti yang dilakukan duo sejoli Imam Pesuwaryantoro dan Anjar Ningtias pada 12 September 2021. Pernikahan tersebut membuat kedua meraih juara dua Asia Pacific Youth SDGs Summit 2022.

Apakah itu Less Waste Wedding ?

Ini adalah konsep resepsi pernikahan yang meminimalisir produksi limbah pada perhelatan yang identik dengan kemewahan ini. Karena produksi limbah menjadi fokus utama maka segala elemen pendukung resepsi pernikahan harus merujuk pada tidak menghasilkan sampah dalam bentuk apapun dalam jumlah yang besar.

"Kami pernah melakukan research, bahwa ternyata secara rata-rata acara pernikahan bisa menghasilkan 272 Kg sampah dan 63 Ton emisi karbon. Bayangkan saja dari satu perhelatan pernikahan bisa menghasilkan sampah sebanyak itu," jelas Imam Pesuwaryantoro, Co-Founder of @ecowedding.co.

Baca juga : Hajar Wakil China, Syabda Juara Malaysia International Series 2022

Eco-Wedding sebagai entitas wirausaha sosial telah berhasil memberikan dampak sosial dengan memilah sampah organic sebanyak +3.785 kg, sampah anorganik +8.745 kg, sampah terdaur ulang +12.530 kg. Yang mana dengan prosentase residu sampah terbuang ke TPS Bantar Gebang hanya 0,85%. 

Langkah kecil yang telah dilakukan pasangan ini, menerapkan Less Waste Wedding di pernikahannya adalah dengan melakukan pre-assestment, assestment dan post-assestment pada implementasi Zero Waste Wedding. 

Bagaimana detailnya?

Tahapan Pertama, yang perlu dipahami adalah dengan melakukan kajian teknis berupa pre-assestment seperti melakukan kalkulasi perhitungan konsumsi energi listrik yang digunakan, kalkulasi produksi katering yang perlu dimasak dan disiapkan kepada tamu hadirin yang hadir hingga kalkulasi penggunaan dekorasi dari upcycle product serta souvenir kit dari bahan baku ramah lingkungan.

Tahapan Kedua, yang perlu dipahami adalah dengan pelaksanaan Responsible Waste Management Event selama prosesi acara berlangsung seperti penempatan mini collection point (sampah terpilah), penggunaan alat pendukung yang ramah lingkungan pada saat santap makan dengan menghindari penggunaan plastik sekali pakai serta menghemat konsumsi energi listrik selama acara.

Baca juga : Princess Mary Superal Juara Simone Asia Pacific Cup

Tahapan Ketiga, yang perlu dipahami adalah Teknis Pasca Acara (Post-Assestment) dengan menimbang dan mengukur sampah yang ditimbulkan. Baik sampah organik dan sampah anorganik yang diproduksi selama proses akad dan resepsi selesai. Tak lupa dilakukan pencatatan secara berkala melalui Sustainable Report and Investment. 

Tidak hanya itu, proses monitoring dan evaluasi yang telah dilakukan pada tahapan ketiga juga melibatkan akademisi dan praktisi industri pengelolaan sampah. Seperti Bank Sampah, Octopus, Waste4Change, dan Plasticpay secara intens. 

Agar Apa? Supaya residu sampah yang dihasilkan pasca pernikahan tidak mencemari lingkungan di sekitar kita. 

Imam meyakini, Perubahan Iklim yang terjadi akhir-akhir ini seperti banjir, bertambahnya suhu panas bumi, krisis air dan krisis pangan adalah bagian dari dampak serius yang wajib dijadikan perhatian serius para stakeholder Pentahelix (Lembaga Pendidikan, Pemerintah, Perusahaan, Media, Komunitas). 

Namun pembiayaan investasi Green Sukuk menjadi kunci bagi sektor swasta (UMKM dan Perusahaan) berkolaborasi dengan komunitas, media dan lembaga pemerintah dalam menjalankan Program Indonesia Net Zero Emission 2060.

Baca juga : Polisi Bunuh Polisi Drama Belum Tamat

"Saya yakin, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar Rp 3.416 triliun untuk mengatasi perubahan iklim tahun 2030 dan Rp 28.223 triliun untuk mencapai target nol emisi karbon pada 2060," kata Imam Pesuwaryantoro.***


Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.