Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kolaborasi Dan Edukasi Masif Mampu Bendung Hoax Di Dunia Maya

Minggu, 20 November 2022 21:23 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Meningkatnya pengguna internet juga memiliki dampak negatif yang harus diantisipasi. Salah satunya tersebarnya berita bohong alias hoax.

Upaya yang paling penting untuk menangkal hoax adalah dengan edukasi. Edukasi yang terprogram dapat dilakukan dengan kolaborasi.

Dosen Universitas Negeri Padang Siska Sasmita mengatakan, kolaborasi bisa dilakukan lewat beragam platform digital dan ragam perangkatnya.

"Kolaborasi diyakini mampu mencegah munculnya ujaran kebencian dan hoax bisa ditangkal sehingga kerukunan dan persatuan tetap terjaga," ujarnya dalam webinar bertema Menghidupi Persatuan Indonesia: Jangan Mudah Terprovokasi di Era Luapan Informasi! yang digelar di Balikpapan, Kalimantan Timur, dikutip Minggu (20/11).

Webinar ini dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Berita Terkait : Nama Mahfud Menggema Di Musra VII Banten

Dosen Universitas Negeri Padang Siska Sasmita mengatakan, di tengah banjirnya informasi, terkadang sulit dibedakan antara kabar bohong dengan fakta sesungguhnya.

Untuk mengantisipasi publik terpapar kabar bohong, kolaborasi dilakukan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan Aliansi Jurnalis Independen yang didukung oleh Google. Kolaborasi ini melahirkan situs cekfakta.com.

“Ini adalah fenomena kolaborasi yang positif untuk menangkal menyebarnya kabar bohong di masyarakat. Kolaborasi ini pertama kali diluncurkan pada Mei 2018 lalu,” katanya.

Fenomena lain yang terbentuk dari kolaborasi di ruang digital adalah komunitas edukasi yang diinisiasi Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital), sebuah komunitas yang diikuti dosen, peneliti, dan pegiat literasi digital di Indonesia.

Tak hanya itu, lanjut Siska, di tingkat warga di pemukiman, kerap dibentuk kolaborasi antarwarga sebuah RT atau RW. Antar warga perlu mendapat kolaborasi terlebih dahulu. Setelah itu kolaborasi antar warga sangat baik untuk ikut mencegah hoax.

Berita Terkait : Terobos Hujan Dan Banjir, Mak Ganjar Gelar Baksos Untuk Korban Banjir Di Palangkaraya

Komunitas tersebut sangat berarti di kala salah satu warga membutuhkan warga lainnya sehingga bisa direspons dalam waktu cepat.

“Secara praktik, kecakapan digital dapat dikuasai tatkala mampu memperoleh informasi yang valid, menyampaikan informasi tersebut saat berkomunikasi dengan pihak lain, serta bertransaksi dengan aman dan nyaman,” tegas Siska.

Social Media & Design Kumpulan Emak Blogger Suciarti Wahyuningtyas menjelaskan, bahwa di tengah banjir informasi, tantangan budaya yang dihadapi Indonesia saat ini adalah melemahnya wawasan kebangsaan.

Selain itu, serbuan budaya asing menggerus budaya lokal Indonesia. Penetrasi internet yang memberi banyak ruang berekspresi kerap membuat orang kebablasan dalam menyampaikan ekspresinya.

“Sebab, di era kemajuan teknologi informasi saat ini, masyarakat memiliki kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dari internet di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, dibutuhkan literasi digital untuk mencegah dampak buruk penggunaan internet yang berlebihan,” ucap Suciarti.

Berita Terkait : Stok Pangan Indonesia Ranking Ke-37 Di Dunia

Founder Komunitas Pandai Komunikasi Ahmadi menambahkan, di tengah banjir informasi dan penetrasi internet yang begitu tinggi, kecakapan digital lainnya yang dibutuhkan adalah mengenai keamanan digital.

Keamanan digital yang lemah berpotensi merugikan seseorang, misal dalam hal kebocoran data pribadi maupun menjadi korban penipuan siber yang menyasar uang tabungan korbannya.

“Selain itu, pemahaman jejak digital juga menjadi bagian penting dari kecakapan digital. Jejak digital bisa menjadi pintu masuk pelaku kejahatan,” kata Ahmadi.
 Selanjutnya