Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
SF-ITB: Produk Tembakau Alternatif Lebih Rendah Risiko Daripada Rokok
Kamis, 2 Februari 2023 12:15 WIB
Sebelumnya
Tahap selanjutnya, tim SF-ITB melakukan pencarian data karakterisasi bahaya untuk senyawa dengan nilai ambang (non-karsinogenik dan karsinogenik non-genotoksik) dan tanpa nilai ambang keamanan (karsinogenik genotoksik), penghitungan kajian paparan dengan kasus skenario terburuk, serta dilanjutkan dengan karakterisasi risiko untuk non-karsinogenik dan substansi karsinogenik.
Hasilnya, kata Prof. Emran, produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko yang lebih rendah daripada rokok. Namun, produk ini tidak sepenuhnya bebas risiko.
Baca juga : Pemilu Proporsional Terbuka Lebih Kedepankan Politik Masa Depan
Selain itu, komponen zat berbahaya dan berpotensi berbahaya juga begitu minim. Zat berbahaya dan berpotensi berbahaya yang dimaksud berupa acrolein, benzena, nikotin, dan 1,3-butadiene.
“Kalau dipikir sederhana secara logika, tentu saja dengan dipanaskan seharusnya lebih sedikit komponen zat berbahaya dan berpotensi berbahaya yang terbentuk secara kualitatif, jenis, maupun kuantitatif kadarnya,” papar Prof. Emran.
Baca juga : Apa yang Membuat WhatsApp Aero Lebih Menarik Dari WA Resmi?
Hasil kajian SF-ITB tersebut juga selaras dengan kajian ilmiah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesehatan yang kredibel di dunia, termasuk Public Health England dan UK Committee on Toxicology (COT), bagian dari Food Standards Agency, yang menyimpulkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan memiliki profil risiko 90-95 persen lebih rendah daripada rokok.
Dengan berbagai hasil kajian ilmiah tersebut, Prof. Emran mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan terkait lainnya untuk turut mengkaji produk tembakau alternatif bersama para akademisi, pelaku industri, asosiasi, hingga konsumen.
Baca juga : Berkat Produk Tembakau Alternatif, Prevalensi Merokok di Selandia Baru Turun Drastis
Hasil dari kajian tersebut akan sangat membantu dalam meluruskan disinformasi terhadap produk ini.
“Nantinya, kajian ilmiah bisa menjadi informasi komprehensif bagi publik, terutama perokok dewasa, untuk menurunkan prevalensi merokok sehingga kesehatan masyarakat semakin baik,” kata dia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya