Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Zaskia Adya Mecca, Turun Langsung Padamkan Karhutla
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
RM.id Rakyat Merdeka - Secara global, glaukoma merupakan penyebab kebutaan tertinggi kedua, setelah katarak. Nyaris tanpa gejala, glaukoma berpotensi memberi dampak yang lebih fatal yakni kebutaan permanen.
Dokter Subspesialis Glaukoma dan Ketua Jakarta Eye Center (JEC) Glaucoma Service, JEC Eye Hospitals & Clinics Widya Artini Wiyogo mengatakan, glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang berdampak sangat besar terhadap kualitas hidup penyandangnya.
Baca juga : Gejot Turis Jepang, Garuda Buka Rute Baru Tokyo-Manado
“Dari kecemasan bahkan depresi adanya risiko kebutaan, keterbatasan aktivitas sehari-hari karena gangguan lapang pandang, kendala fungsi sosial karena mulai menghilangnya penglihatan, hingga efek samping pengobatan, serta pengaruh finansial akibat biaya pengobatan yang dikeluarkan,” tambah Widya, dalam keterangannya, Kamis (9/3).
Namun sayangnya, lanjut dokter yang juga Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengatakan di Indonesia permasalahan glaukoma masih memprihatinkan lantaran penderita seringkali baru mencari pengobatan ketika sudah pada stadium lanjut.
Baca juga : Raisa, Galau Bisa Jadi Cuan
Widya mengatakan, lebih dari 80 persen kasus glaukoma muncul tanpa gejala. Ini yang membuat glaukoma dijuluki sebagai ‘si pencuri penglihatan’.
"Penatalaksanaan glaukoma sedini mungkin sangatlah krusial agar progresivitas penyakit ini dapat dikontrol dan kerusakan saraf mata bisa diperlambat sehingga kebutaan pun tercegah,” lanjutnya.
Baca juga : Nah Lho, Barca Belum Bisa Belanja Pemain
Data terakhir Kementerian Kesehatan dalam laporan “Situasi Glaukoma di Indonesia” (2019) memprediksi jumlah penderita glaukoma secara global pada 2020 mencapai 76 juta atau meningkat sekitar 25,6 persen dari angka satu dekade lalu yang masih 60,5 juta orang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya