Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Abdul Hadi Furqoni mengungkap enam jenis gen yang dapat memicu kecenderungan bunuh diri. Namun, gen ini tidak otomatis mendorong orang untuk bunuh diri.
“Gen-gen ini dapat mempengaruhi gangguan psikologis dan emosional, namun tidak secara langsung menyebabkan bunuh diri,” kata Abdul, dalam webinar bertajuk "Fenomena Banyaknya Kasus Bunuh Diri pada Usia Produktif, Apa yang Terjadi?", Kamis (25/7).
Berikut enam jenis gen yang dapat memicu bunuh diri:
1. Gen TPH-1 (kromosom 11):
Gen yang mengatur sistem serotonergik dan sintesis serotonin, sering ditemukan pada individu di Afrika, Amerika, Spanyol, dan Cina.
2. Gen 5-HTT (kromosom 17):
Gen yang mengatur aktivitas serotonin di sinapsis ini, dapat mempengaruhi gangguan emosi serta risiko bunuh diri.
3. Gen COMT (kromosom 22):
Baca juga : Fajar Dan Apri Jadi Kapten Indonesia Di Piala Thomas Dan Uber
Gen yang mengkode enzim untuk katabolisme dopamin dan noradrenalin ini terkait dengan kecenderungan kekerasan dan risiko bunuh diri.
4. Gen CRHBP (kromosom 5):
Gen yang terlibat dalam regulasi sumbu HPA ini, dapat memicu kecenderungan bunuh diri pada penderita skizofrenia.
5. Gen FKBP5 (kromosom 5):
Gen yang mengatur glukokortikoid selama stres ini, terkait dengan gangguan mental pascatrauma dan bunuh diri.
6. Gen BDNF (kromosom 11)
Gen yang berperan dalam fungsi otak dan plastisitas sinaptik ini, terkait dengan gangguan depresi mayor dan kecenderungan bunuh diri.
"Penelitian menunjukkan bahwa gen-gen ini mempengaruhi risiko bunuh diri melalui regulasi neurotransmitter, hormon, dan respons stres," jelas Abdul.
Baca juga : Tambah Layanan, Nasabah Bank DKI Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu Di ATM BRI
Menurutnya, identifikasi genetik dapat membantu mendeteksi risiko dan mengembangkan strategi pencegahan serta pengobatan yang lebih efektif.
Proses identifikasi genetik melibatkan pengumpulan DNA dari inti sel dan mitokondria. Pengumpulan sampel dapat dilakukan dari gigi, tulang, darah, saliva, cairan sperma, dan akar rambut.
"Penting untuk menghindari kontaminasi, melakukan labelling, dan penyimpanan sampel dengan benar. Metode ekstraksi DNA dapat menggunakan kit atau metode organik,” terang Abdul
“Kuantifikasi DNA penting untuk memastikan kadar dan kemurnian DNA, sehingga amplifikasi PCR dapat dilakukan dengan hasil maksimal,” tambahnya.
Abdul menjelaskan, suasana hati dipengaruhi hormon serotonin dan dopamin.
Baca juga : Masuki Era AI, Jurnalis Harus Kuasai Digital
Serotonin adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai neurotransmitter, yang disintesis berada di sistem saraf pusat, mengatur mood, rasa sakit, tidur, nafsu makan, dan beberapa fungsi kognitif termasuk memori.
Sedangkan dopamin adalah neurotransmitter yang diproduksi tubuh dan digunakan oleh sistem saraf, sering disebut sebagai pembawa pesan kimia yang mengubah asam amino tirosin menjadi hormon dopamin, berfungsi untuk meningkatkan suasana hati dan menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh.
“Kekurangan serotonin dapat menyebabkan stres dan depresi, sedangkan kekurangan dopamin dapat mengakibatkan insomnia, kecemasan, halusinasi, tidur yang kurang, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan delusi atau ketidakmampuan membedakan antara hal yang nyata dan tidak nyata,” beber Abdul.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya