Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif khawatir dengan penambahan jumlah pasien Covid-19 yang semakin cepat. Bahkan, dia memprediksi jumlah pasien mencapai 500 ribu pada akhir tahun ini.
Menurut Syahrizal, jumlah itu bukan tidak mungkin. Kalau tidak patuh melaksanakan protokol kesehatan. Dia menjelaskan, peningkatan 50 ribu di Indonesia cepat sekali. Pertama tiga bulan, kemudian satu bulan, berikutnya 23 hari dan 17 hari. “Kecepatan ini akan membawa kita pada akhir tahun sebesar 500 ribu," ungkapnya saat webinar dengan Rakyat Merdeka, Senin (26/10)
Ia mengatakan kalau pasien Covid terus bertambah, yang paling berat adalah beban rumah sakit membutuhkan dua kali lipat. "Ini yang menjadi kekhawatiran kita bersama,” tambahnya.
Baca juga : Terapkan Protokol Kesehatan, Agen Wisata Siapkan Paket Menarik Jelang Long Weekend
Syahrizal mengimbau agar masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan. Menurutnya, bila 90 persen masyarakat mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak hindari kerumunan, itu sebanding dengan 70 persen masyarkat divaksin.
Ia mengatakan dengan menggunakan masker itu sangat penting dan bisa memutus mata rantai virus Covid-19.
Untuk itu Syahrizal mengatakan diperlukannya sejumlah langkah. Salah satunya mendorong orang-orang yang terkonfirmasi ataupun tanpa gejala untuk diisolasi di tempat karantina bukan di rumah.
Baca juga : Paslon Kudu Berjuang Memutus Rantai Penyebaran Corona
Menurutnya, isolasi di rumah justru akan menimbulkan kluster baru. Sebab, potensi penularan terhadap anggota keluarga yang lainnya sangat besar.
Ia mencontohkan di Korea Selatan atau di Wuhan, China, tidak melakukan hal seperti itu. "Mereka khawatir terjadinya kluster di tingkat rumah tangga,” katanya.
Selain itu, Syahrizal juga meminta pemerintah untuk menerapkan 3 (tiga) T, yakni testing, tresing, dan treatment. "Testing yang tidak merata di masyarakat, menurut Syahrizal bisa berdampak buruk pada penyebaran virus," pungkasnya.[QAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya